Travelling

Model United Nations: Sebuah Perjalanan

Halo semuanya 🙂

Sebelumnya, terimakasih sudah mampir ke sini. Kali ini, aku mau berbagi pengalaman pribadiku dalam mengikuti MUN (Model United Nations), lebih tepatnya lagi Harvard World MUN.

Awalnya,

Dari semenjak SMA aku sudah punya mimpi untuk bisa datang ke benua biru. Perlu dicatat, aku bukan berasal dari keluarga yang kaya raya, jadi aku gak bisa ucuk-ucuk datang ke orang tua dan bilang “Aku mau sekolah di luar negeri, dong”. Jadi aku sudah terbiasa mencari informasi sendiri, bahkan ada satu saat aku bersama temanku, Benazir, berkeliling ibukota, mendatangi banyak Education Fair (Pameran Pendidikan) bahkan sampai mampir ke kantor Kemendikbud demi mendapatkan informasi tentang beasiswa. Akan tetapi, semua sekolah di luar negeri tersebut tidak memberikan beasiswa penuh, palingan hanya 15%. Kalaupun aku bisa dapat, aku belum tentu bisa menghidupi diriku di sana.

Menjelang kelulusan, aku mulai berpikir kalau aku sepertinya harus mengesampingkan mimpiku dulu karena aku belum mendapatkan informasi beasiswa luar negeri untuk S1. Jadi aku fokus mengikuti SNMPTN sambil berharap kalau pasti saya disediakan jalan pada akhirnya.

Saya sangat bersyukur waktu saya diterima di salah satu PTN di Bandung, walaupun mungkin jurusannya bukan yang sesungguhnya saya inginkan. Masa-masa kuliah tetap saya jalani, sambil terus mencari informasi.

Kemudian,

Satu pagi, saya dan mama sedang lari pagi di sekitaran kampus saya. Tiba-tiba saya melihat wajah salah satu senior saya terpampang jelas di sebuah banner besar bertuliskan “Harvard WorldMUN”. Senior saya ini menjadi bagian dari delegasi universitas yang akan berangkat ke Melbourne, Australia. Keren bangeeeet…… batinku sambil terus mengunyah gorengan. Aku pun mengutarakan kekagumanku pada mama, sambil berkata “Kok bisa yaa, mam..”. Mama ku pun menjawab “Coba kamu cari tahu..”

Setelah itu,

Saya jadi makin gencar mencari informasi. Thanks to twitter dan juga berbagai medsos dari universitas, saya pun jadi tau kalau setiap tahunnya universitas saya mengirim banyak delegasi untuk mengikuti MUN di seluruh dunia. Ada yang di Boston, Melbourne, ah banyak lagi. Saya pun makin geger ingin menjadi bagian dari delegasi tersebut.

Akhirnya ada jalan,

Saya pun mulai mencatat tanggal-tanggal penting dan mendaftarkan diri untuk proses seleksi. Saya memilih untuk ikut seleksi Harvard WorldMUN yang akan diadakan di Belgia tahun 2014. Belgia…… EROPA!!!

Saat itu seleksi terbagi menjadi beberapa tahap.

  1. Submit dokumen
  2. LGD (Leaderless Group Discussion)
  3. Simulasi MUN
  4. Wawancara

Tahap demi tahap saya lalui, ada beberapa teman yang gugur. Sedih juga karena menurut saya di tahap seleksi no. 3, saya merasa persaingannya cukup ketat dan mereka semua adalah orang yang luar biasa. Sampai akhirnya pada tahap wawancara, saya dihadapkan pada biaya yang harus dikeluarkan. 19 juta. SEMBILAN BELAS JUTA. Arti uang tersebut lebih besar dari caps lock yang saya tuliskan. Hanya hanya anak kuliahan, yang bergantung pada beasiswa dari pemerintah. Saya tidak punya uang sebanyak itu.

Aku pun pulang dengan langkah gontai sambil membatin “Kalau semua nya mahal begini, berarti cuma anak orang kaya yang bisa berprestasi…..” pikirku sedih. Aku pun bercerita kepada mama. Mamaku orang tua tunggal, jadi uang sebanyak itu pastilah sangat berarti dan bisa digunakan untuk banyak hal lain. Belum lagi saat itu aku masih duduk di semester 3. Aku merasa benar-benar down…. dan sepertinya aku tidak akan lolos seleksi karena panitia tau, aku tidak punya biaya.

Benar saja, saya tidak lolos. Saya sedih sekali. Saya pikir…. memang susah sekali ya kalau tidak punya banyak uang. Tapi mama saya menyemangati saya untuk tetap coba lagi. Saya pun mencoba berfikir positif, kalau ada kemauan pasti dibukakan jalan. Saya hanya berdoa saja, kalau Gusti Yesus mengizinkan saya diterima, langkah saya berikutnya juga pasti diberkati. Saya pun mengubah fokus saya, dari ingin diterima menjadi delegasi menjadi: Yang penting aku sudah melakukan yang terbaik.

Aku pun kembali belajar, membaca dari banyak sumber, sampai berlatih bicara di depan cermin. Syukurlah, aku lolos seleksi pada akhirnya 🙂

Perjalananku tidak berhenti di situ. Selanjutnya yang harus kupikirkan adalah: DANA.

Salah satu teman dari almarhum papaku memberikan bantuan. Tapi, aku nggak mau mama memakai semua uang itu cuma untuk anaknya yang ambisius. Jadilah aku mengirim proposal pribadi. Iya pribadi, aku cari dana sendiri. Puji Syukur sekali, dosen ku Ibu Christy bersedia membantu. Bahkan ada satu alumni, yang sampai saat ini masih suka kuhubungi untuk mengucapkan Selamat Lebaran. Pak Sugeng namanya. Beliau melihat proposalku di milis alumni dan tanpa banyak bertanya langsung ingin membantuku. Aku juga sangat bersyukur kepada teman-temanku di BE HIMAKA, yang membantu menyebarkan proposal.

Visa,

50 juta?!!!!

Itulah nominal yang harus dimiliki apabila aku mau membuat visa Schengen untuk pergi Eropa, menurut salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Nyaliku hampir ciut. Tapi menurut website kedutaan, aku hanya membutuhkan sekitar 20-30 euro setiap hari. Artinya, kalau aku hanya di Belgia selama 5 hari, aku hanya butuh maksimal 150 euro! Tidak sampai 5 juta! Karena bank swasta tersebut tidak mau mengeluarkan rekening koran, karena jenis tabungannku hanyalah jenis tabungan rempeyek…… aku tidak patah semangat dan mecoba dengan bank lain. Karena aku menerima beasiswa bidikmisi, aku dibuatkan tabungan Mandiri. FYI, universitas tidak mau membiayai karena menurut mereka, aku tidak akan menghasilkan jurnal internasional ketika mengikuti MUN. Saat itu aku cuma berfikir… memang ada ya anak S1 yang sudah bisa bikin jurnal internasional? Tapi yasudahlah. Lagi-lagi jalan terbuka, karena ada uang buku yang mengendap di dalam rekening tersebut (Secara aku selalu beli buku bekas 😛 atau copy) ditambah sejumlah uang yang sudah kukumpulkan, jadilah di rekeningku ada 10 juta.

10 juta untuk visa Schengen adalah sangat mungkin

Puji Syukur ku Gusti Yesus, permohonan visaku dikabulkan!!!!!! Aku pun menangis tersedu-sedu (beneran) saking senangya.

 

 

Akhirnya,

 

IMG_0221
Salah satu Katedral terbesar di dunia terdapat di kota Brusel.

 

Kususuri jalan berbatu. Pepohonan di sisi kanan dan kiriku mulai muncul lagi daunnya. Udara sejuk menerpa wajahku. Anak-anak kecil bermain riang. Aku menyusuri jalan menuju Basiliek van Koekelberg itu dengan rasa bersyukur sambil berdoa: Lord, I am yearning to be here again. Longer.

 

 

 

Teman,

Jangan pernah takut untuk bermimpi. Jangan pernah lelah untuk berusaha. Berdoalah dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Percayalah bahwa yang Maha Kuasa melihat kesungguhan kalian dan memeluk mimpi kalian sampai waktunya kalian dapat menghidupi mimpi kalian.

P. S.: Semoga ceritaku bisa menjadi berkat untukmu 🙂

0 thoughts on “Model United Nations: Sebuah Perjalanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top