Travelling

GRATIS: Mengejar Mimpi di Swedia – Pengalamanku

 

Berpose di Malmรถ, kata host mom ku, ini tempat foto para turis ๐Ÿ™‚

 

Dari dulu aku selalu bermimpi untuk bisa menjelajahi benua biru. Entah kenapa, apakah karena aku kebanyakan  menonton film Harry Potter? Atau aku hanya ingin melihat salju? Dari kecil aku ingin mencoba menjelajahi jalanan berbatu di Eropa, merasakan hembusan hawa dingin, dan melihat asap keluar dari mulutku.

Aku tidak berasal dari keluarga kaya raya, tapi aku percaya, kehidupanku sangat diberkati. Walaupun mamaku hanya sendirian membanting tulang, aku tidak pernah kekurangan. Kebaikan orang-orang yang aku dan mamaku temui juga membantuku untuk masuk ke sekolah yang baik, bahkan sampai kuliah, aku masih mendapat berkat untuk kuliah dengan beasiswa di kampus tercinta.

Lalu apa yang kurang?

Sekalipun pernah ke Belgia (hanya lima hari) saat kuliah, aku masih memimpikan untuk bisa merasakan tinggal di negara empat musim. Oleh karena itu, setelah lulus kuliah aku mencoba mendaftar ke beberapa universitas di Eropa dan mencari beasiswa, sembari bekerja ๐Ÿ™‚

Setelah setahun mencoba, aku berhasil diterima di empat universitas di Inggris, Swedia, dan Belanda. Akan tetapi, kegagalan demi kegagalan aku dapatkan ketika aku mendaftar beasiswa.

Walaupun begitu, aku bersyukur. Kenapa? Karena sebenarnya aku seperti membohongi diri sendiri.

Ketika aku bekerja, aku berkesempatan menjajal dunia yang seluruhnya berhubungan dengan bahasa. Sama sekali berbeda dengan background ku di bidang sains. Aku sangat nyaman bekerja di bidang tersebut, sesuatu yang sudah ku rasakan dari dulu.

Aku juga ingin tinggal di negara empat musim, sedangkan beasiswa-beasiswa yang sudah kudaftar mengharuskan aku untuk tinggal di tanah air.

Setelah satu tahun, kulepaskan keinginanku untuk mencari beasiswa.

Banyak jalan menuju Roma dan aku percaya, kalau satu pintu ditutup, akan ada pintu lain yang bisa kita lalui. Bukan karena kita yang terburuk, tapi mungkin saja pintu yang tertutup itu bukan jawaban terbaik untuk kita.

Satu kali, aku tidak sengaja berkontak kembali dengan temanku. Saat itu dia sudah di Jerman untuk menjalani suatu program volunteering (sukarelawan). Aku pun teringat tentang percakapan ku dengannya mengenai suatu program yang disebut dengan au pair.

Ketika kubuka laptop lamaku, ternyata di situ sudah kusiapkan satu folder berisi informasi tentang au pair. Aku jadi ingat, saat kuliah aku pernah berfikir, kalau nanti aku belum dapat beasiswa juga, aku akan coba program ini.

Apa itu au pair?

Au pair merupakan program pertukaran budaya di mana si au pair nantinya akan tinggal bersama keluarga angkat (host family). Kegiatan ini biasanya banyak dilakukan oleh siswa Eropa atau bahkan Amerika yang baru selesai SMA dan belum tau ingin mengambil jurusan apa atau juga dilakukan oleh para traveller yang ingin bisa menjelajahi dunia. Di Indonesia mungkin ini bukan program yang diketahui banyak orang. Tapi di Eropa misalnya, banyak au pair yang pergi ke Amerika atau hanya sekedar menjajal program tersebut di negara lain yang juga masih di Eropa supaya bisa jalan-jalan.

Akupun membuat akun di situs www.aupairworld.com

Setelah kira-kira dua bulan, masih belum ada juga host family yang tertarik. Akhirnya, akupun memperbaharui profil ku, menatanya, dan mengirim aplikasi lebih banyak lagi. Pada akhirnya aku mendapat host family dari Swedia yang tertarik denganku. Deg-degan, tapi senang sekali. Semuanya berjalan lancar sampai setelah lima bulan visaku jadi, aku merasa kurang nyaman dengan host family ku karena suatu hal. Aku berdoa saja, supaya mendapatkan yang terbaik.

Tidak disangka-sangka, saat aku memberitahukan kalau visaku sudah jadi, host family ku berkata bahwa mereka sudah memiliki au pair. Aku entah kenapa merasa lega, tapi juga sedih karena saat itu aku sudah mengajukan surat pengunduran diri untuk bulan Maret 2018. Aku juga sudah berjanji pada bonbon (baca: kekasih hati :)) bahwa aku akan datang bulan Maret itu. Dia sampai mengambil cuti selama dua minggu yang akhirnya dia habiskan tanpa kedatanganku. Walau begitu, bonbon tidak pernah mengungkit-ungkit bahwa masa dua minggunya terbuang sia-sia.

Akhirnya akupun mencari host family lain. Tetapi host family ku yang pertama marah besar, katanya beliau sudah membantuku untuk membuat visa. Padahal uang registrasi visa kubayarkan dengan uang dari tabunganku sendiri. Sepertinya, saking marahnya, beliau menghubungi pihak imigrasi Swedia dan alhasil visa dan hasil penantian ku berbulan-bulan hendak dibatalkan. Aku hanya punya dua minggu untuk mencari keluarga baru. Bayangkan. Menemukan keluarga pertama saja butuh beberapa bulan, dan saat itu aku hanya punya waktu dua minggu.

Aku sangat putus asa. Aku merasa semua usahaku, mulai dari mencari beasiswa, bahkan sampai untuk mengikuti au pair sepertinya sia-sia.

Akan tetapi, aku bersyukur sekali punya mama yang selalu mendoakan dan menyemangati. Punya kekasih hati yang sangat sabar mendengarkan aku bersungut-sungut di telepon. Saat itu yang paling menyemangatiku adalah kata-kata bonbon:

“Tessa, if it is your dream, you shouldn’t give up”

katanya di telepon. Entah kenapa aku jadi bersemangat lagi.

Aku pun gencar mengirimkan aplikasi secara online. Kebanyakan keluarga tersebut tidak memberi kepastian. Sampai akhirnya aku bertemu host mom ku. Katanya, dia akan tanyakan dulu ke suaminya.

Setelah menunggu, aku pun melakukan Skype dengan kedua host parents ku. Host mom ku terdengar seperti orang yang sangat ramah dan mudah tertawa. Sedangkan host dad ku suka bercanda dan sangat to the point. Akhirnya kami sepakat, dan host parents ku berjanji akan membayarkan tiket pulang pergi Swedia – Jakarta. Uang sakuku juga ditambah. Aku sangat sangat bersyukur. Aku merasa seperti diberikan jalan yang mudah bahkan saat semuanya terasa sulit. Aku merasa sangat diberkati dengan keluarga baruku itu.

Berlanjut..

Hampir seperti mimpi. aku sekarang sedang duduk sambil mengetik di pinggiran jendela. Aku sudah tinggal beberapa minggu bersama keluarga angkatku di sebuah kota kecil bernama Eslรถv. Damai sekali, terkadang kalau sore aku suka melihat sekumpulan burung terbang rendah di atas apartment tempatku tinggal. Latar belakang langit sore dan udara sejuknya juga sangat menenangkan.

Aku sangat berterimakasih. Doa-doa ku didengar. Seandainya ada kata-kata yang lebih indah dari “Makasih” pasti sudah kukatakan terus berkali-kali. Kepada Tuhan Yesus, pelukis langit senja yang selalu kunikmati.

Catatan:

Pada akhirnya host family ku memang membelikanku tiket perjalanan pertama ku ke Swedia. Tidak tanggung-tanggung, mereka memilihkanku pesawat British Airways, yang menurutku yang belum pernah naik British Airways, tentu saja keren sekali. “It is a great airline, Tessa!” kata host mom ku bersemangat sebelum aku berangkat.

 

 

Kira-kira pukul 11 malam, matahari baru benar-benar tenggelam.

 

Semangat selalu teman-teman, kalau kalian sedang merasa gagal, percayalah: Kegagalan itu hanya sukses yang tertunda ๐Ÿ˜‰

 

4 thoughts on “GRATIS: Mengejar Mimpi di Swedia – Pengalamanku

  1. Thanks kak ceritanya sangat inspiratif! ๐Ÿ™‚
    Obviously, Jesus Christ is GOOD ALL THE TIME! ^^
    Hope u have a great life ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top