Site Overlay

Cerita Au Pair: 3 Bulan di Skandinavia – Bertahan atau Pulang?

P R O L O G

Hari itu tanggal 29 Juli 2018. Aku duduk sendirian menatap layar besar di stasiun Eslöv, Swedia. Beberapa tas besar yang baru saja kugeret dengan kewalahan berjajar dengan asal di sebelahku. Pikiranku agak kosong, tenggorokanku masih agak sesenggukan.

Salah satu mimpi buruk au pair yang tadinya hanya aku baca di blog dan tonton di YouTube saat itu terjadi padaku.

Aku “diusir” dari rumah “keluarga angkatku” di Swedia.

Beberapa minggu sebelumnya memang ibu angkatku agak berbeda, terutama sebelum dan sesudah dia melahirkan. Ada satu saat di mana aku dan si bapak sedang makan dan bercerita tentang keinginanku untuk melanjutkan pendidikan. Ketika si ibu datang, si bapak dengan bersemangat menceritakan keinginanku ke istrinya dan si ibu hanya bilang “Oh timunnya habis…..” *gubrak, awkward moment*

Aku sebenarnya sudah ada feeling tidak enak. Makanya, sebelum berangkat liburan tanggal 15 Juli lalu, aku bertanya apakah aku akan ikut mereka ke Norwegia dan apakah aku harus membawa laptopku ke Jerman. Jawaban mereka masih lempeng-lempeng saja.

Aku pun berangkat ke Jerman dengan perasaan yang masih bertanya-tanya. Sempat aku sampai berpikir “Kok aku nggak happy ya? Padahal kan aku akan mengunjungi bonbon dan keluarganya?”. Aku masih bertanya-tanya apa ada hal buruk yang akan terjadi.

Esok paginya aku bangun, masih di dalam bis, memandang layar handphone dan membaca pesan dari ibu angkatku tentang seonggok piring kotor, dikirim jam 11.22 malam sebelumnya. Ketika aku sudah sampai di rumah bonbon, si ibu angkat ku mengirim pesan dan memintaku untuk mencari keluarga lain……

Salah satu masalahnya adalah soal pajak, katanya aku terlalu banyak bertanya. Padahal, kalau aku tidak bayar pajak, bukannya mereka juga yang akan kesulitan? Pada akhirnya pun aku pergi sendiri ke kantor pajak untuk menyelesaikan. Si ibu mengeluhkan satu piring kotor yang kutinggalkan. Padahal waktu beliau melahirkan, aku yang mengurus anak-anaknya dari pagi sampai pagi. Aku tidak perhitungan karena kupikir intinya bisa membantu mereka. Jadi aku tidak mengerti kenapa mereka tidak mengajakku berdiskusi saja? Karena menurutku mengirim pesan saat hampir tengah malam itu sangatlah tidak pantas.

Aku tetap tenang, mungkin karena sudah ada feeling, tapi akhirnya aku menangis juga. Aku duduk dan menangis di lantai dingin kamar mandi. Bonbon sampai harus pura-pura ingin pipis supaya aku mau keluar. Bonbon salah satu orang yang bisa membuatku tenang. Dia hanya memelukku saja sambil mengeluarkan kata-kata yang menyemangati.

K E L U A R G A B A R U

Aku bersyukur karena beberapa hari setelah aku “diusir” aku mendapatkan keluarga baru.

Keluarga baru ini rumahnya lebih besar dan lebih perfeksionis sehingga aku harus lebih banyak belajar. Aku sempat berdiskusi perihal pekerjaan “bersih-bersih” yang terlalu detail dan menurutku bukan lagi pekerjaan rumah yang mudah. Namun mereka sepakat kalau aku kalau aku ingin melakukan pekerjaan tersebut, uang saku ku ditambah dan jumlahnya lumayan untuk ditabung.

P E R T I M B A N G A N

Aku banyak berpikir mengenai keadaanku. Apa aku harus bertahan atau pulang?

Kalau aku bertahan, ya aku harus kerja ekstra. Aku bahkan sempat merasa down karena merasa seperti tukang bersih-bersih.

Aku juga sempat berbagi cerita dengan teman-teman au pair lain. Dari aku menyimpulkan kalau bersih-bersih “besar” yang akan kulakukan seminggu sekali itu adalah hal yang lumrah di Denmark.

Di sisi lain, uang saku yang akan kudapat sangat lumayan. Aku pikir, uang yang nantinya bisa kukumpulkan sangatlah lumayan apabila aku ingin memulai usaha (salah satu mimpiku adalah tidak ingin bekerja dengan boss :P) atau pun jika aku ingin melanjutkan sekolah ke jenjang Master (untuk tambah-tambah :))

P E R A S A A N K U

Awalnya tentu saja sangat sedih. Tapi sekarang aku sedang belajar bersyukur dan melihat sisi baik dari hal-hal yang terjadi.

Aku juga bersyukur mama dan keluarga terdekatku terus menyemangatiku dari jauh.

Oh iya, aku juga senang sekali akhirnya bertemu keluarga bonbon. Ibunya sangat penuh kasih dan sering membuatkan kami kue. Aku dan ibu bonbon sampai menangis sebelum aku kembali merantau.

T E M P A T Y A N G S U D A H D I K U N J U N G I

Walaupun sempat down, aku bersyukur masih bisa menikmati hari-hari ku bersama bonbon. Kami melakukan road trip ke Italia, Austria, dan Jerman. Semuanya tetap terasa menyenangkan dan banyak hal yang bisa disyukuri.

Aku juga mengunjungi Ramsau, di mana ada sungai jernih dan gereja tua yang sudah ingin kudatangi sejak aku kecil.

M E M O R I T E R B A I K

Tentu saja saat aku sedang bersama bonbon dan keluarganya 🙂

Pada akhirnya, masa-masa “gokil” itu juga memberikan pengalaman hidup.

P E L A J A R A N

Walaupun terlihat sulit, aku bersyukur sudah melewati masa-masa yang aku tahu akan menjadi pelajaran berharga di masa depan. Aku benar-benar mengalami yang namanya menggeret koper-koper superpadat sendirian, puluhan ribu kilometer dari rumah.

P E N C A P A I A N

I am stronger than I think I am, and I have learned, a lot 🙂

E P I L O G

Bagaimana kalau kalian jadi aku?

Dengan pertimbangan yang aku sebutkan, plus karena aku juga masih muda, apakah kalian memilih bertahan atau pulang?

Terimakasih sudah membaca 🙂

Tulisan ini kubuat sebagai bahan pembelajaran dan catatan kisah untuk diriku di masa mendatang. Kalau kalian sedang dan akan menjadi au pair lalu membaca kisah ini, jangan takut! Masih banyak keluarga-keluarga baik di luar sana dan kalaupun kalian ada di posisi yang sama atau bahkan lebih buruk dari pengalamanku, tetap semangat 🙂 Pada akhirnya semua cerita kalian akan menjadi pengalaman yang berharga.

“In life, you should gather moments and experience. Don’t be afraid to take a leap of faith! 🙂

Copenhagen, 9 Agustus 2018.

5 thoughts on “Cerita Au Pair: 3 Bulan di Skandinavia – Bertahan atau Pulang?

  1. wahh kok tega bgt smp ngusir gitu :”) pas di usir gitu dpt ongkos pulang atau nggak tuh? trus kok bisa cepat dpt keluarga baru kak? nyarinya gmn?

    1. Iya sungguh teganya hehe tapi memang beberapa hari sebelum kejadian aku udh berasa dan situasi keluarga saat itu lagi tekanan banget karena mau pindah, jadi aku juga udh sempet ga betah. Nggak, karena belum selesai kontrak, aku juga ga pengin minta hehe. Aku bersyukur ada keluarga di DK yg nyari au pair juga, dapetnya di facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up