Au pair

Tantangan Sebagai Au Pair

Jalan-jalan ke negara-negara barat, bertemu teman-teman baru, merasakan pengalaman yang berbeda, semua itu adalah hal-hal indah yang bisa kita dapatkan dengan menjadi au pair. Tapi, apa au pair itu hanya tentang bersenang-senang? Tentu tidak. Banyak cerita yang saya baca dan juga dari pengalaman saya yang tidak selalu hura-hura.

Berikut ini tantangan yang mungkin dialami seorang au pair:

Rindu Rumah

dscf7077
Lah kok? (sumber: anakjajan.com)

Kalau saya sebenarnya sudah pernah merantau (cuma Bandung – Jakarta sih hehe), tapi maksudnya saya sudah biasa hidup mandiri. Tapi tetap saja ada saat-saat saya merindukan rumah, terutama makanan Indonesia! Waktu saya diberi Indomie oleh teman saya, langsung saja saya lahap dua bungkus mie goreng tersebut 😀

Saya juga membawa bumbu instan, seperti bumbu redang dan kari. Ah, jadi rindu sate ayam 😛

Kendala Bahasa

employer-branding-20-where-do-we-go-from-here-talent-connect-2016-6-638
sumber: slideshare.net

Tidak sedikit keluarga yang anak-anaknya tidak bisa berbahasa Inggris. Bayangkan kalau kalian tiba-tiba harus berinteraksi dengan bahasa Norwegia, Swedia atau bahasa lainnya. Waduh sulit juga kan?

Tapi jangan takut, karena nantinya kalian akan belajar bahasa negara tersebut dan biaya kursus nya akan ditanggung oleh keluarga asuh kalian.

Banyak Kerjaan di Rumah

54d176bd58-mamanaufoyerdbordc3a9e
sumber: elikia-cf.com

Iya, memang ada saat di mana au pair bisa berpetualang dan jalan-jalan. Tapi pada akhirnya, rumah keluarga asuh ini kan bukan hotel. Tentunya ada pekerjaan rumah yang harus kalian lakukan.

Saya jadi ingat saya sempat mengobrol dengan teman saya yang sedang au pair di Norwegia di telefon dan dia bilang dia harus belajar untuk vacuuming. Saya juga. Saat di rumah, saya tidak terlalu sering bersih-bersih. Waktu kuliah dan nge-kost, saya hanya perlu memikirkan kebersihan kamar saya sendiri. Di Indonesia mesin pencuci piring dan pengering pakaian tidaklah populer. Jadilah saya belajar tentang dishwasher, dryer, dan sebagainya.

Terkadang, ada juga keluarga yang perfeksionis, detail, dan disiplin. Mungkin saja sulit. Tapi anggap saja sebagai tantangan untuk memperbaiki diri. Toh, kita tidak akan mengerjakan pekerjaan di rumah mereka selamanya.

Ingat, kita tinggal di rumah orang. Akan sulit jika kita selalu perhitungan karena pada akhirnya keluarga asuh sudah memberikan tempat tidur, makanan, sekolah bahasa, bahkan ada juga yang membayari tiket pesawat dan biaya visa. Realistis, tapi juga pastikan kita bisa membawa diri dengan baik saat berada di rumah keluarga asuh.

Merasa “eksterior”

18642220
sumber: goodreads

Satu kali saya membaca satu kalimat di salah satu blog tentang au pair, kira-kira begini tulisannya:

Sampai kapanpun au pair tidak akan pernah menjadi bagian keluarga seutuhnya.

Walaupun kita memanggil “host parents” atau “host kids“, belum tentu kita merasa dekat dengan mereka semua. Menurut saya hubungan au pair dengan keluarga asuh itu ibarat mencari teman. Bisa cocok, bisa tidak. Masalahnya kalau gak cocok dengan teman ya lebih mudah diselesaikan. Lah kalau sama keluarga asuh? Tentu saja harus didiskusikan.

Terkadang mungkin ada perbedaan budaya. Kita mungkin sebagai orang Indonesia sudah biasa disambut kalau sedang berada di rumah keluarga. Tapi budaya di negara barat itu ya memang orang-orangnya lebih mandiri. Jadi gak usah baper kalau memang keluarga tersebut terlihat cuek. Justru kita yang harus mencoba mendekatkan diri 🙂

Terkena “stigma” Cewek Asia

ap2017-03-a3-i1
sumber: audiologypractices.org

Memang ada?

Ada.

Teman-teman au pair Indonesia yang saya tau, semuanya berpendidikan dan mengikuti au pair memang untuk pertukaran budaya dan jalan-jalan.

Tetapi tidak sedikit cewek-cewek dari negara Asia lain yang mengikuti au pair untuk mencari uang. Banyak juga yang tadinya bekerja sebagai asisten rumah tangga di Arab  dan mengikuti au pair setelahnya.

Hal ini menurut saya membuat kacau. Bayangkan ada keluarga asuh yang mempekerjakan au pair sebagai asisten rumah tangga. Lalu si au pair tidak berkata apa-apa karena merasa itu sudah “tempatnya”. Jadilah banyak yang beranggapan kalau au pair itu adalah full time maid.

Au pair lama di keluarga asuhku berasal dari Asia. Ada beberapa hal yang dia lakukan yang menurutku tidak sesuai lagi dengan tugas-tugas au pair alias berlebihan. Jadila aku berdiskusi dengan keluarga asuhku. Akhirnya kami menemukan titik temu.

BERDISKUSILAH SELALU JIKA ADA YANG MENGGANJAL.

Kita memang harus berusaha memberikan yang terbaik. Tapi kita juga harus mengerti batasan-batasannya. Pada akhirnya kan baik au pair maupun keluarga asuh harus sama-sama merasa happy. Jadi, jangan takut bicara namun harus tetap sopan ya 🙂

Mungkin hal-hal di atas hanyalah sedikit dari temuan saya selama menjadi au pair selama tiga bulan.

Kalau kalian hanya membayangkan jadi au pair itu senang-senang dan melihat dunia, kalian harus berpikir ulang sebelum mendaftarkan diri.

Saya sendiri ingin menjadi au pair untuk jalan-jalan, mencari pengalaman, dan menjadi individu yang lebih baik. Tantangan pasti ada, tapi menurut saya au pair itu salah satu momen:

The Time of My Life

fb4e05db520a35a3cd975d1add2efa75-hard-times-inspiring-quotes
sumber: pinterest

 

Saya yakin semua yang pernah atau sedang au pair pasti pernah merasakan tantangan yang terkadang membuat sedih hati. Tapi saya percaya, di setiap pengalaman tersebut akan ada hal yang bisa dipelajari dan dikenang 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top