Ruang Bercerita

Au Pair itu…..

Dari hasil menulis di blog, ada beberapa yang bertanya pada saya tentang au pair, kebanyakan sangat bersemangat untuk tahu bagaimana cara untuk tinggal di Eropa melalui program ini.

Sebenarnya sah-sah saja. Karena memang banyak sisi au pair yang sangat menyenangkan, seperti kesempatan untuk travelling, belajar bahasa baru, dan juga mendapatkan life-changing experience.

Akan tetapi, au pair bukanlah hanya tentang hura-hura. Walaupun secara resmi, au pair bukanlah suatu pekerjaan, tapi pada praktiknya sebenarnya sulit untuk tidak “bekerja” di rumah keluarga asuh.

Walaupun pada peraturan tertulisnya au pair hanya mengerjakan tugas-tugas “ringan”. Tetapi pada prakteknya, au pair melakukan dua juta tujuh ratus lima puluh ribu lima puluh lima “light tasks” 😂

Lantas, apa saja sih au pair itu? Apa hanya sekedar pertukaran budaya saja?

PETUGAS KEBERSIHAN

“Oooh, kamu di sana mau ikut orang toh…” (baca: jadi TKI). Begitulah komentar salah satu keluarga saya ketika saya menjelaskan tentang au pair. Dalam hati aku berfikir, “Memang kebanyakan pekerja di Indonesia itu bosnya bukan manusia ya?” hehe

Tapi memang pada akhirnya ada kegiatan bersih-bersih yang harus dilakukan oleh au pair. Kalau beruntung dan memang seharusnya, kalian hanya membersihkan hal-hal yang berhubungan dengan anak-anak dan kalian sendiri. Kalau kurang beruntung, kalian mungkin tinggal bersama orang tua asuh yang detail dan perfeksionis. Alhasil, cara vacuuming dan bersih-bersih kalian harus lebih detail.

TUKANG MASAK

Satu kali saya dapat cerita dari au pair yang berasal dari Afrika, dia bercerita ke host familynya kalau ayahnya adalah seorang professional chef dan dia juga suka memasak. Alhasil semua kegiatan masak-memasak ditujukan pada si au pair. Paling parah, satu sore kenalan saya ini diminta memasak untuk 14 orang! Si host family sambil berkata seperti ini “You cook better than us that’s why you should be the one who cooks“. Entah itu pujian atau alasan klasik.

Saya mengerti, pasti sulit juga untuk tiba-tiba marah dan mungkin berkata dengan lantang “THIS IS NOT AN AU PAIR TASK!“. Karena pada akhirnya sebagai au pair kita ditanggung oleh host family dalam banyak hal.

Sepantasnya, seorang au pair hanya memasak untuk kebutuhan anak-anak. Akan tetapi kalau memang host family meminta kamu untuk memasak untuk semua orang, ada baiknya kalau kalian mencoba diskusi dengan mereka.

KADANG-KADANG PELAJAR

Aturan utama au pair adalah kalian harus mempelajari bahasa setempat. Entah itu dibayari pihak keluarga asuh ataupun pemerintah.

Kenapa kadang-kadang?

Karena biasanya keluarga asuh hanya membayar untuk satu atau dua level, sehingga selanjutnya kalian tidak sekolah lagi. Ada juga keluarga asuh yang royal dan akhirnya membayari sekolah bahasa sampai habis masa kontrak kalian.

TUKANG CUCI

Walaupun di negara-negara maju ini teknologi sudah sangat maju, terkadang ada benda-benda yang tidak boleh dicuci dengan mesin. Jadilah harus mencuci secara manual.

Mencuci dan mengeringkan baju semuanya bisa dilakukan dengan mesin. Tapi tetap saja, kemungkinan orang tua asuh kamu punya jadwal sendiri untuk mencuci. Selain itu ada juga pakaian atau selimut yang tidak bisa masuk ke mesin pengering. Jadilah kamu harus menjemurnya di bawah matahari.

KAKAK TERTUA

Tidak sedikit keluarga asuh yang memang sangat hangat terhadap au pair mereka. Sehingga si au pair pun akan merasa nyaman bersama mereka dan pada akhirnya menjadi seperti seorang kakak untuk anak-anak mereka yang masih kecil. Tidak sedikit juga host kids yang dengan mudah merasa dekat dengan si au pair, sehingga membuka jalan juga untuk si au pair menjadi kakak bagi mereka.

ANGGOTA KELUARGA

Kalau kalian kurang beruntung, mungkin saja kalian merasa sangat tidak nyaman dengan keluarga asuh kalian. Menurutku ya bisa karena dua alasan:

Kamu terlalu malas/ manja,

atau

Keluarga asuhmu memang keterlaluan

Kalau memang alasan kedua adalah penyebabnya, tentulah kalian akan merasa asing di rumah yang kalian tinggali.

Tapi, jangan sedih dan takut dulu, ada juga kok keluarga asuh yang memang memanusiakan au pair nya dan bahkan benar-benar tulus terhadap au pair mereka. Ada beberapa teman au pair yang kutahu, masih membuat hubungan baik dengan keluarga asuh mereka bahkan saat kontrak mereka sudah selesai.

PEMBELAJARAN DAN PENGALAMAN

Poin-poin di atas memang adalah harga yang harus dibayar ketika kalian menjadi au pair. Sebagai ganti, kalian mendapatkan akomodasi, makanan, tiket, bahkan ada juga keluarga asuh yang memberikan au pairnya handphone.

Dari semua itu, kalau kalian hanya berfikir negatif pastilah kalian ingin cepat-cepat kembali ke tanah air di mana semuanya terasa lebih nyaman.

Akan tetapi sesungguhnya kalau kita berfikir positif, au pair itu memberikan kita kesempatan untuk menghidupi cara hidup yang benar-benar berbeda. Menjelajahi negara lain dengan mudah karena sudah punya izin tinggal dan kesempatan untuk melihat sisi lain dari dunia.

Selain itu, kalian juga bisa belajar hidup “ikut orang”. Di mana tidak semua keinginan kalian bisa langsung dilakukan saat itu juga. Belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan berani. Berani mengeluarkan pendapat dan berani memperjuangkan hak-hak sebagai individu.
Au pair itu tentu saja bukan hanya hura-hura. Au pair itu bisa menjadi kisah. Asam, manis, pahit, penuh cerita semuanya tergantung dari bagaimana cara kita melihatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top