Au pair

Kenapa Kamu Harus Mencoba Program Au Pair Selagi Muda

Lahir

Kemudian masuk sekolah

Lalu melanjutkan kuliah

Setelah itu mencari kerja

Tidak lupa menikah

Memiliki anak

Membesarkan anak

Begitu lagi seterusnya

Karena aku ini orang yang pemikir, ada satu hal yang seringkali kupikirkan…

KEHIDUPAN

Ha? Memang terdengar klise ya. Tapi kalau sesama orang yang pemikir, ku rasa pasti bisa sedikit mengerti.

Rasanya kok, kurang seru kalau hidup mengikuti pola-pola yang sudah ada. Satu saat, aku pun ingin membangun keluarga tapi selagi muda dan penuh semangat, aku ingin bisa mewujudkan salah satu impianku: keliling dunia.

Saat sudah mulai bekerja, aku benar-benar merasakan perjuangan hidup di Jakarta. Bus yang penuh sesak, abang angkot yang berteriak-teriak, sampai abang ojek yang berseliweran di mana-mana. Sepertinya kurang seru, kalau aku bekerja dari muda sampai tua dan melihat hal-hal yang sama setiap hari.

Dari dulu, aku paling tertarik untuk pergi ke Eropa. Maklum, kebanyakan menonton Harry Potter. Untuk mewujudkan mimpi, aku bekerja sembari mencari beasiswa. Akan tetapi walaupun surat tanda diterima di universitas sudah di tangan (Letter of Acceptance), tetap saja beasiswa yang kuinginkan belum kunjung kuterima.

Walaupun belum bisa mendapatkan visa studi di Eropa, aku nggak patah semangat dan mencoba mencari jalan lain. Akhirnya, aku pun menemukan informasi tentang au pair.

Saat ini, aku sedang menjalani masa au pair ku di Denmark. Walaupun tidak selalu terasa mulus, aku tetap bisa menyimpulkan kalau saat-saat au pairku ini sangat memorable!

Untuk kalian yang masih muda, berikut ini alasan kenapa kalian harus mencoba program au pair:

PENGALAMAN YANG MENGUBAH HIDUP

Seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku bisa saja bekerja di Jakarta sampai tua, naik turun busway setiap hari atau bawa kendaraan dan terjebak macet. Itu-itu saja. Mengikuti program au pair memberikanku kesempatan untuk memiliki cerita hidup yang berbeda.

Saat in aku tinggal di rumah keluarga asli Denmark. Aku benar-benar menyadari betapa berbedanya cara orang Indonesia dan Denmark menghidupi hari-harinya. Mulai dari kebiasaan mengenai kebersihan, kepedulian mengenai lingkungan, hingga cara mendidik anak. Semuanya berbeda.

Hidup di luar negeri ini membuatku menyadari betapa luasnya dunia dan cara pandang hidup orang yang ada di dalamnya. Tentu saja pengalaman ini nggak akan bisa aku miliki kalau aku memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di Jakarta.

Melihat musim-musim yang berbeda, mempelajari bahasa dan budaya setempat, memiliki teman-teman dari berbagai belahan dunia (kebanyakan sih tetap kenalan dari Indonesia :P). Semuanya memberikan ku perspektif baru tentang kehidupan dan benar-benar merupakan life-changing experience.

BELAJAR BAHASA BARU

Au pair memiliki hak untuk mempelajari bahasa negara setempat. Tentunya belajar bahasa ini akan ditanggung oleh keluarga asuh dan biasanya merupakan aturan tertulis. Waktu di Swedia, aku sempat mempelajari bahasa Swedia selama satu bulan secara intensif. Biaya kursus beserta ongkos ditanggung oleh keluarga asuh.

Di Denmark pun keluarga asuhku diharuskan untuk membayar biaya kursur beserta biaya deposit yang jumlahnya sudah ditentukan oleh pemerintah.

Mungkin bagi sebagian orang belajar bahasa bukannlah hal yang penting, tapi aku pribadi senang sekali apabila bertemu orang yang multilingual. Rasanya orang tersebut berpengetahuan luas dan tentu saja akan memiliki pergaulan yang luas juga.

Katanya sih, belajar bahasa juga bisa memperluas kemungkinan menemukan jodoh (lho? haha). Kalau hanya bisa bahasa Indonesia, rasanya sulit dapat jodoh dari Rusia yang ngomongnya afsbewhfnefnsk (nggak tau juga gimana haha).

MENDAPATKAN TEMAN BARU

Waktu di Indonesia, teman-temanku kalau bukan teman lama saat sekolah atau kuliah ya teman satu kantor. Rasanya agak sulit untuk memperluas wilayah pergaulan, kecuali banyak-banyak mengikuti kegiatan sosial yang tentu saja akan terasa melelahkan.

Ketika tiba di Swedia, aku nggak punya teman sama sekali. Teman main ku ya adik-adik asuhku. Tapi tentunya aku juga ingin punya teman yang seumuran. Bersyukurnya, saat kursus bahasa aku mendapat teman baru. Ada yang berasal dari Thailand, Afrika Selatan, China, bahkan Indonesia juga ada. Satu kali bahkan ada teman dari Indonesia yang kukenal dari instagram lalu mengundang ku ke rumahnya untuk ikut makan-makan. Memang orang Indonesia, ramahnya di mana-mana 🙂

MENJADI LEBIH MANDIRI DAN BERANI

Ada satu hal yang aku rasa benar-benar menjadi pelajaran di masa au pair ku: BERDIKARI (Berdiri di Atas Kaki Sendiri). Jauh dari rumah dan keluarga membuatku jadi harus lebih lugas dan sigap ketika menghadapi masalah. Saat travelling pun, kemandirian ini sangat dibutuhkan apalagi kalau sedang berada di negara baru. Harus berani bertanya dan berani menghadapi banyak hal. Sesungguhnya masa au pair ini bisa penuh kejutan, terkadang menyenangkan atau bisa juga memberikan pelajaran.

TRAVELLING TANPA BATAS*

*Di sekitar wilayang Schengen

Ketika menjadi au pair, aku mendapatkan izin tinggal dan kartu yang bertuliskan nomor penduduk. Hal ini berarti aku mendapatkan hak yang kurang lebih sama dengan penduduk Denmark pada umumnya. Karena Denmark berada di wilayah politik Uni Eropa, aku pun bebas mau jalan-jalan ke negara manapun yang masih termasuk di wilayah politik yang sama. Mulai dari utara Swedia sampai pantai cantik di selatan Perancis yang masih jadi impian, semua bisa.

Berbeda jika aku travelling dari Indonesia yang sedikit-sedikit harus bikin visa. Selain butuh waktu agar visa bisa diproses, dana yang dibutuhkan juga lebih banyak.

Mungkin teman-teman au pair lain punya cerita dan pendapatnya masing-masing. Ada yang ketagihan atau mungkin malah kapok. Kalau aku pribadi sih percaya, it’s worth to try.

img_2320-011202125763.jpeg
Mumpung kaki masih kuat memanjat arena Ski di Holmenkollen

Hayo, apa jadi mau ikutan?

Semangat! 🙂

 

 

One thought on “Kenapa Kamu Harus Mencoba Program Au Pair Selagi Muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top