Au pair

Dear Au Pair, Hindari Keluarga Asuh yang Seperti ini!

Tanpa ada maksud menggurui, tulisan ini ku buat untuk membantu para teman-teman calon au pair untuk memilih keluarga asuh yang tepat. Harus kita akui, keberhasilan dan kebahagiaan seorang au pair ditentukan oleh keluarga asuh.

Kalau beruntung yah, dapat keluarga asuh yang sangat baik. Kemungkinan malah bisa tinggal di apartment yang dipinjami keluarga asuh atau mendapatkan rumah kecil yang tidak menyatu dengan rumah utama. Bebas mengambil waktu libur dan boleh membeli makanan yang nantinya bisa di reimburse. Keluarganya menyenangkan dan anak-anaknya mudah diurus.

Kalau kurang beruntung? Yah, bisa menjadi pengalaman yang buruk.

Aku sendiri sudah punya pengalaman buruk dengan keluarga asuh. Oleh karena itu, aku membuat tulisan ini untuk membantu teman-teman yang ingin menjadi au pair dan mendapatkan keluarga asuh yang tepat.

 

BERIKUT INI CIRI-CIRI KELUARGA ASUH YANG HARUS DIHINDARI CALON AU PAIR:

TERLALU BANYAK ANAK

action activity boy children
Photo by Lukas on Pexels.com

Salah satu tugas au pair adalah menjaga anak. Untukku sendiri, tiga adalah jumlah anak yang paling banyak untuk bisa kuurus. Kenapa? Karena menjaga anak itu bukan masalah fisik saja yang bekerja, tapi juga hati dan pikiran. Bayangkan saja kalau anak asuh kalian ada lima, yang satu mau ini, yang lain mau itu. Bisa lelah nantinya. Belum lagi kalau beberapa anaknya masih perlu ganti popok, pasti ribet.

Selain itu, jumlah anak itu juga akan memengaruhi kegiatan light houseworknya au pair. Semakin banyak jumlah anak, pasti semakin banyak ruangan berisi mainan yang harus dirapihkan, kecuali kalau semua anak ada di satu kamar. It is gonna be one big mess 😀

BANYAK ALERGI

selective focus photography of cup of beverage
Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

Aku sudah punya pengalaman dengan keluarga yang gluten free dan beberapa anggota keluarga punya alergi tertentu bahkan nggak bisa makan ayam! Awalnya kupikir biasa saja, sampai si ibu meminta ku untuk tidak menggunakan piring ketika membuat roti (remahannya mengandung gluten) dan menggunakan panci tersendiri untuk memasak indomie. Rasanya benar-benar tidak nyaman.

Selain itu dengan perbedaan makanan ini, aku juga tidak bisa asal-asalan mengambil stok makanan di kulkas. Buat orang yang cinta kuliner sepertiku, ini adalah siksaan haha

PERFEKSIONIS

empty kitchen with white wooden cabinet
Photo by Milly Eaton on Pexels.com

Setiap orang tentunya memiliki karakter yang berbeda-beda. Kalau aku sendiri, merasa sulit hidup dengan orang yang ingin semuanya tertata rapi dan sempurna. Menurutku kalau rumah ditinggali yah pasti kotor. Rumah yang  dijaga karena bersejarah juga sepertinya belum tentu bersih sempurna.

Sangat lumrah apabila orang Eropa ingin rumahnya kelihatan rapi, memang tingkat kebersihan di Eropa ini lebih tinggi. Akan tetapi tidak sedikit orang yang bukan hanya memiliki tingkat kebersihan yang tinggi tetapi juga ingin semuanya terlihat sempurna.

Dari pengalamanku, ibu asuh lama pernah meminta ku membersihkan satu benda yang menurutnya masih “sangat kotor”. Ketika aku datangi benda tersebut, waduh bersih sekali, sepertinya lalat saja bisa terpeleset. Belum lagi kemauannya untuk mencuci tangan dengan baik dan benar. Kalau dihitung, aku mungkin cuci tangan sepuluh kali sehari.

Ketika aku membereskan sesuatu pun terkadang dicek bahkan menggunakan kain putih untuk memastikan tidak ada kotoran kecil yang tertinggal. Waduh, bikin geleng-geleng kepala!

PERHITUNGAN

photo of person holding pen
Photo by Acharaporn Kamornboonyarush on Pexels.com

Di beberapa post sebelumnya, aku pernah bercerita bahwa ketika aku sarapan dengan alpukat saja disindir. Katanya mahal. Haduh ribet deh! haha

Untukku sendiri, keluarga asuh yang perhitungan terhadap makanan dan hari libur harus dihindari. Coba bayangkan harus tinggal selama satu atau dua tahun dengan keluarga yang seperti ini. Buat ku sih, sangat tidak nyaman.

TIDAK MAU MEMBERIKAN KONTAK AU PAIR SEBELUMNYA

marketing office working business
Photo by Negative Space on Pexels.com

Tidak sedikit keluarga asuh yang tidak mau memberikan kontak au pair sebelumnya atau mengulur-ulur. Menurutku ini termasuk red flag.

Kenapa mereka tidak mau kita berbicara dengan au pair sebelumnya? Apa takut si au pair lama menceritakan hal buruk tentang mereka?

<3 <3 <3

Pada akhirnya, mencari keluarga asuh memang susah gampang apalagi banyak keluarga asuh yang ingin au pairnya sudah berada di Eropa. Tetapi menurut pengalamanku, lebih baik menunggu lebih lama dan mendapatkan yang tepat dari pada buru-buru hanya karena ingin cepat berangkat.

Program au pair itu kan bukan hanya sebulan atau dua bulan, oleh karena itu kita harus benar-benar yakin kalau kita akan merasa nyaman dengan calon keluarga asuh.

Selamat mencoba 🙂

Baca juga:

Wawancara dengan Host Family

Au Pair Selagi Muda

Au Pair ke Swedia Tanpa Agen

 

One thought on “Dear Au Pair, Hindari Keluarga Asuh yang Seperti ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top