Site Overlay

Cerita Au Pair: 1 Tahun – Merantau Rasa Rumah

YEAY!

Tepat tanggal 3 Mei satu tahun lalu, aku tiba di bandara Kopenhagen. Setelah lama tidak travelling jauh, aku mengepak pakaian dan barang-barangku, tidak lupa membawa minyak kayu putih dan koyo haha, untuk terbang selama 13 jam nonstop ke Eropa. Dengan sedikit waswas aku menunggu untuk dijemput oleh ibu asuh pertamaku yang datang terlambat.

Siapa sangka, aku sekarang sudah tinggal dengan keluarga baru di Denmark. Rencana tinggal di Eropa selama setahun malah berlanjut dengan visa yang berlaku hingga kurang lebih satu setengah tahun ke depan.

Ternyata cerita rantauku sebagai au pair ini berwarna-warni juga. Kandang cerah dan hangat bagaikan langit di musim panas, ada juga saat yang kelabu seperti saat musim dingin yang terkadang memuakkan.

P E R A S A A N K U

Berbagai musim telah kulalui, ada saat senang ada juga saat susah. Tetapi aku merasa saat-saat tersulit ku malah memberikan pelajaran yang sangat berharga di masa depan.

Aku merasa lebih mandiri dan juga tegas, tidak naif dalam melihat dunia. Berhadapan dengan banyak orang yang memiliki latar belakang yang berbeda membuatku lebih mudah menerima dan mentoleransi orang lain. Denmark adalah negara yang sangat memperhatikan kebebasan berpendapat, sehingga aku belajar untuk berani beropini.

Selain itu, berinteraksi dengan anak-anak juga membuatku lebih sabar dalam menghadapi mahkluk-mahkluk mungil ini. Kadang sedikit aku mati gaya menghadapi anak asuh yang sedang moody, tapi lama-lama aku belajar lebih tegas dan memahami mereka. Mereka terkadang tidak bisa menyuarakan perasaan mereka karena keterbatasan mereka dalam berkata-kata dan ada saatnya juga mereka bahkan nggak tahu mau mereka apa. Jadi aku yang lebih besar harus bisa lebih legowo dan mengerti. Di banyak hari, anak-anak asuhku bisa juga menjadi sangat manis.

Perasaan rindu mama dan makanan Indonesia sudah banyak terbantu dengan adanya media sosial dan keberadaan toko-toko asia. Akupun sudah terbiasa makan roti dan havre atau musli untuk sarapan dan makan siang. Mudah, cepat, dan efisien! haha Padahal tadinya aku muak menyantap makanan dingin untuk makan siang.

T E M P A T B A R U

Beberapa bulan ini aku hanya menghabiskan waktu di Denmark saja. Tetapi beberapa waktu lalu temanku mengundangku untuk naik ke atas Round Tower yang ada di Norreport. Sebenarnya banyak gedung yang bisa kita datangi untuk melihat Kopenhagen dari atas, tapi untuk masuk kita harus membayar (tidak semua).

Aku nggak menyempatkan diri untuk banyak membaca tentang Round Tower ini. Tetapi dari yang kulihat, sepertinya bangunan ini digunakan untuk melihat bintang. Untuk naik ke atas tidak memerlukan waktu yang lama. Hanya saja jalanan berbatunya berputar dan di atas sedikit penuh pengunjung. Tapi lumayan untuk menikmati Kopenhagen dari atas sambil menikmati cemilan.

*sayang foto dari atas Round Tower belum bisa kutemukan

M E M O R I T E R B A I K

Memori terbaikku adalah saat bonbon mengunjungiku di Kopenhagen. Aku sempat mengenalkannya pada keluarga asuhku yang disambut dengan ibu asuhku yang berkata “This is Tessa’s home too”. Kata-kata yang sederhana, tapi membuatku merasa seperti rumah.

Aku dan bonbon seperti biasa berjalan kaki keliling kota. Kami sempat menikmat Tivoli dan mecoba salah satu tempat makan di dalamnya. Tivoli hari itu sangat cantik, dengan bunga-bunga yang bermekaran dan matahari yang bersinar terik.

P E N C A P A I A N

Beberapa hari lalu aku mengikuti ujian bahasa Denmark level 1. Kalau di sini sih disebutnya modul 1. Aku telat masuk karena sebelumnya nggak pernah ada waktu lengang untuk pergi ke kelas. Ternyata voucher ku dari pemerintah Denmark sudah akan habis tanggal 15 Mei 2019. Sudah telat masuk, harus ujian lebih dulu juga. Haduh!

Guruku memberi tahu kalau aku bisa mencoba tes ulang apabila tidak lulus. Beberapa teman sekelasku melihatku dengan tatapan tidak percaya ketika guruku bilang aku akan ujian lebih dulu. Mungkin dalam hatinya mereka berkata “Si cewek ini gila sekali baru masuk sudah mau ujian“.

Salah satu bab dari modul 1

Tapi berbekal ilmu yang masih kuingat tentang bahasa Swedia dan semangatku, aku akhirnya lulus modul 1 per tanggal 3 Mei lalu. Aku senang sekali karena bisa selesai sebelum tenggat waktu dari pemerintah. Selanjutnya tinggal melanjutkan ke modul 2.

P E L A J A R A N

Setahun lalu, aku memulai perjalanku dan memilih untuk menjadi au pair karena kesal belum mendapat beasiswa dan penat dengan situasi yang terlalu stress selama di Jakarta. Kupikir dengan pergi ke Eropa selama setahun, aku bisa jalan-jalan dan menambah pengalaman.

Sesampainya di sini dan setelah menempuh perjalanan selama setahun ini, aku sangat bersyukur karena kesempatan yang kudapatkan ini bukan hanya sekedar tentang jalan-jalan dan mencari pengalaman. Aku belajar untuk melihat hidup dari sisi yang berbeda. Tumbuh dan besar di Indonesia, membuatku melihat banyak hal bagaikan warna hitam dan putih, benar dan salah. Mungkin karena terbiasa dengan suasana yang kental dengan nuansa religius. Di sini aku bertemu orang yang tidak mengenal agama tapi sangat baik dan rasional.

Aku selalu berfikir kalau Indonesia adalah negara yang tergolong miskin. Tapi setelah tinggal di negara yang kaya, aku jadi sadar banyak orang yang punya segalanya tetapi miskin jiwanya. Jadi ingat ramahnya orang Indonesia dan kebiasaan kita untuk banyak memberi. Sebaca ku, Indonesia adalah salah satu negara yang paling murah hati dalam hal memberi.

Jauh dari tanah yang kusebut rumah dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang membuatku belajar untuk melihat hidup dari kacamata yang berbeda. Sesulit-sulitnya memahami perbedaan bahasa, tidak ada seorangpun yang tidak mengenal bahasa kebaikan.

Aku belajar untuk tidak melihat seseorang dari status sosial. Karena biasanya yang memulai dari bawah malah punya semangat juang yang lebih tinggi. Belajar untuk tidak melihat status keagamaan seseorang, karena yang mengerti isi dari kitab-kitab tebal belum tentu mau belajar untuk mengasihi orang lain.


Beberapa bulan lalu, aku sempat bertemu dengan satu pendatang dari Finlandia. Katanya “Aku harus membuat diriku merasa nyaman seperti di rumah sehingga aku nggak merasa rindu rumah lagi. Kalau aku terus-menerus rindu rumah, untuk apa tinggal di sini?”

Kupikir-pikir perkataanya itu betul juga. Untuk apa pergi dan tinggal di Eropa kalau sedikit-sedikit aku cuma ingin makan-makanan asia (walaupun aku tetap makan Chinese box karena murah :P), terus-menerus kepikiran “nanti kalau sudah nggak di sini bagaimana baju-bajuku? Masa harus dibuang?” padahal aku masih punya waktu lebih dari setahun untuk berfikir tentang baju-bajuku.

Saat memulai di rumah baru aku berjanji akan membuat diriku merasa seperti di rumah. Kurawat baik-baik kamar yang dipinjami oleh keluarga asuhku, kuhias dengan bunga dan foto untuk membuatku merasa lebih nyaman. Kususun jadwal tugasku di rumah dan juga jadwal untuk pergi ke tempat kursus sehingga aku benar-benar merasakan manfaat menjadi au pair.

Buat kalian yang sedang merantau dan terus-menerus merasa ingin pulang, coba cek lagi. Mungkin sebenarnya kalian yang tidak mau belajar menerima keadaan baru di sekeliling kalian sehingga kalian tidak merasa seperti di rumah. Coba belajar untuk menikmati kesempatan dan petualangan baru yang kalian miliki. Satu tahun ini nggak sebentar, banyak hal yang akan mewarnai cerita kalian selama setahun. Jadi, buat apa merantau lama kalau nggak bisa merasa seperti di rumah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up