Au pair

Au Pair, Tapi kok Seperti Pembantu?

Menjadi Au Pair bukanlah suatu hal yang mudah. Meskipun banyak ‘‘dijual‘‘ dan dipromosikan sebagai program pertukaran budaya, program ini menurut saya adalah zona abu-abu antara pertukaran budaya dan pekerjaan.

Sumber: Smiling Faces Au Pairs

Di Denmark misalnya, tugas utama au pair adalah melakukan domestic chores. Bukan hanya sekedar menjaga anak dan light housework saja, au pair jugalah yang akan bertugas untuk mencuci dan merapihkan semua baju di rumah.

Gambar di atas juga menggambarkan berbagai jenis pekerjaan yang bisa dilakukan seorang au pair. Salah satu yang sering dikatakan oleh host family ketika mencari au pair adalah: ‘‘We are looking for a flexible person‘‘.

Fleksibel di sini bisa berarti kalian siap diberi tugas jika sewaktu-waktu dibutuhkan, misalnya menjaga anak di malam hari ketika orang tuanya sedang menghadiri suatu acara.

Hal inilah yang membuat posisi au pair rentan dikaitkan dengan full time domestic worker atau pembantu.

Mungkin kemudian akan ada yang berkata, ‘‘Ah itu mungkin au pairnya saja yang mau disuruh-suruh‘‘.

Akan tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit host family yang memanfaatkan posisi au pair ini. Sebagai au pair pun akan sulit berdebat jika peraturan au pair di negara tersebut tidak spesifik. Di tambah lagi status au pair yang tinggal di rumah host family, membuat perdebatan atau sekedar memberikan pendapat bisa menjadi sesuatu yang sulit.

Saat saya masih au pair di Denmark, kebanyakan teman au pair saya harus melakukan tugas bersih-bersih yang cukup detail dan berat. Bahkan seorang teman diminta untuk membersihkan kandang kuda. Saya bahkan bingung ketika ingin pindah host family karena melihat sekeliling saya sepertinya semuanya kurang lebih sama.

Berbicara dengan host family mengenai pekerjaan yang terlalu berat tentunya adalah salah satu jalan keluar yang bisa dilakukan.

Akan tetapi terkadang ada juga host family yang memang tabiat atau sikapnya kurang menyenangkan dan tidak akan pernah berubah. Kalau sudah begini satu-satunya jalan keluar adalah untuk ganti host family.

Ketika kalian merasa diperlakukan seperti pembantu, ada baiknya kalian mencoba melihat situasi ini dari berbagai situasi.

Mungkin host family kalian adalah orang yang sibuk sehingga lebih sering terlihat dingin?

Mungkin host family kalian merasa sudah membayar mahal sehingga hanya ingin melihat rumahnya terlihat bersih?

Kalau kalian merasa masih ada yang bisa diperbaiki, cobalah untuk mengintrospeksi diri.

Akan tetapi kalau memang ternyata host family kalian hanya memperlakukan kalian sebagai pembantu semata, kalian tentunya harus memilih: mau bicara dan mencoba memperbaiki situasi bersama host family atau bicara untuk mengutarakan niat untuk pindah host family.


Pada akhirnya memang au pair adalah suatu program win-win solution dan HARUS selalu menguntungkan KEDUA BELAH PIHAK.

Kita sudah mendapat akomodasi dan makanan gratis di negeri orang. Cobalah untuk juga memiliki rasa ketertarikan kepada host family kita. Walaupun tidak bisa membayar dengan uang, jasa kita untuk menjaga anak dan melakukan light house course adalah timbal balik kita kepada host family.

Kalau kata-kata ‘‘Kamu kan pembantu di luar negeri‘‘ keluar dari kerabat dekat, tidak usah dihiraukan.

Ingat-ingat kenapa kamu dulu bersemangat sekali untuk datang ke Eropa. Entah itu untuk melihat dunia atau bahkan memulai suatu cerita, simpan di dalam lubuk hati.

Lakukan saja bagian kita untuk berusaha, toh nantinya cuitan ‘‘au pair adalah pembantu‘‘ akan mereda seiring dengan waktunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top