Ruang Bercerita

Anak Perempuan Egois, Jangan Merantau!

Bagi sebagian besar orang tua di Indonesia, merantau adalah momok menakutkan tersendiri terutama untuk keluarga yang memiliki anak perempuan.

Biasanya, kekhawatiran orang tua ini juga disebabkan oleh bisik-bisik lingkungan sekitar yang kurang lebih berkata ‘‘Ya ampun, kok bisa melepas anak perempuannya untuk merantau jauh?!‘‘

Saya pribadi memiliki orang tua tunggal, papa saya sudah meninggal ketika saya duduk di bangku SMA. Kakak atau adik? Sama sekali tidak punya.

Beruntungnya, mama saya adalah perempuan kaya semangat dan selalu berkata ‘‘Kamu harus bisa berdiri sendiri‘‘.

Jadilah beliau seorang ibu supportif yang tidak mengganggap keputusan saya untuk merantau di luar negeri sebagai suatu beban. Beberapa kali mama malah mengungkapkan rasa bangganya, karena saya bisa mandiri di Eropa. Tidak meminta uang dan malah bisa belajar mandiri mengatur keuangan.

Bagi saya, perkataan ‘‘Ngapain merantau jauh?‘‘ ini malah dikeluarkan oleh orang sekitar.

Satu kali,

Salah satu teman berkomentar ‘‘Untuk apa sih kamu merantau jauh-jauh. Lebih baik di Indonesia, kasihan mamamu sendirian‘‘.

Peryataan, ‘‘Kasihan mama mu sendirian‘‘ ini muncul beberapa kali dari orang di sekeliling saya.


Saya memang manusia bebas yang tidak perlu menjelaskan situasi saya kepada siapapun. Akan tetapi, kali ini saya ingin sekedar mencurahkan isi hati saya.

Mimpi merantau ke Eropa sudah ada di benak saya sejak kecil. Mulai dari semangat belajar bahasa Inggris sejak kecil, ikut IELTS, daftar beasiswa, belum diterima beasiswa, hingga memutuskan ikut program Au pair semuanya sudah saya lakukan. Semuanya tentu saja demi jargon saya, mencoba peruntungan di benua biru.

Setelah sampai di Eropa, ternyata tidak sedikit program yang memberikan saya kesempatan untuk tetap tinggal di sini.

Mungkin bagi sebagian orang negatif, tetapi…

Seandainya saya tetap mengejar karir di Indonesia, saya mungkin akan mendapatkan pengasilan yang memadai setelah beberapa tahun bekerja. Akan tetapi, penghasilan tersebut kemungkinan akan cukup untuk saya semata.

Mama saya bukanlah salah satu pekerja yang akan mendapatkan pensiun setelah usai bekerja/pensiun. Sehingga, saya juga ingin memastikan kalau satu saat saya juga akan bisa memberikan nafkah bulanan untuk mama.

Walaupun jauh dari predikat kaya raya, mama selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk saya. Mulai dari pendidikan hingga les bahasa, semuanya beliau iyakan demi anak semata wayangnya.

Hal ini jugalah yang selalu memberikan saya semangat ketika merantau. Saya ingin memiliki pekerjaan tetap yang gajinya cukup untuk saya, mama, dan juga keluarga kecil saya di masa depan.


Menghakimi memang selalu mudah. Akan tetapi mungkin dibalik label anak perempuan yang egois karena haya ingin merantau ke luar negeri, ada sejuta mimpi yang ia simpan sendiri, mencoba membahagiakan orang terkasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top