Au pair

Au Pair Denmark: Uang Saku Tingi, Tapi …

Bagi beberapa au pair yang sudah pernah menjadi au pair di negara Eropa lain, Denmark biasanya menjadi pilihan karena satu alasan: uang saku yang besar.

Au Pair Swedia, TANPA AGEN

Bukan hal baru lagi bagi para au pair Indonesia, kalau au pair di dua negara Skandinavia (Denmark dan Norwegia) memberikan pocket money tertinggi dibanding negara-negara Eropa lainnya. Denmark sendiri menawarkan uang saku sebesar 4450 DKK (+/- Rp10.000.000,-) dan Norwegia sebesar 5900 NOK (+/- Rp9.000.000,-).

Meskipun begitu, ada beberapa hal yang harus kalian pikirkan baik-baik sebelum terlena dengan uang saku besar dan predikat ‘‘negara bahagia‘‘ yang ditawarkan oleh negara yang satu ini.

How to be an Au Pair in Denmark

POTONGAN PAJAK

Dibandingkan dengan menjadi au pair di Eropa Barat seperti Belanda dan Belgia, negara-negara Skandinavia memotong pajak dari uang saku au pair yang sebenarnya tergolong sangat kecil di negara tersebut.

Hal ini tentu saja bisa dibicarakan dengan host family. Ada juga host family yang bersedia membantu dalam urusan pajak, mengingat uang saku au pair yang kecil. Tetapi ada juga host family yang tidak mau ikut campur untuk masalah yang satu ini.

PEKERJAAN YANG BERAT

Dua tahun jadi au pair di Denmark, sempat pindah host family, dan belajar juga dari pengalaman teman-teman au pair lainnya, Denmark is indeed a tough country for an au pair.

Hampir semua au pair yang kukenal pasti harus membersihkan seluruh isi rumah atau general cleaning. General cleaning ini meliputi dusting (membersihkan debu), vacuuming, dan mengepel seisi rumah. Tidak peduli rumahnya sebesar apa, biasanya host family akan menyerahkan kegiatan general cleaning ini kepada au pair.

Keseharian Au Pair di Denmark (Pengalaman Pribadi)

Beberapa teman yang tinggal bersama host family yang tinggal di rumah besar pun tak luput dari kegiatan ini. Menurutku, salah satu alasannya adalah peraturan yang kurang detail. Kalau tidak salah, au pair bahkan dioerbolehkan untuk membersihkan summer house milik house family, dengan catatan lama perjalanan yang ditempuh ke summer house tersebut juga dihitung sebagai jam kerja.

TINGGAL DI BASEMENT

Kebanyakan au pair di Denmark tinggal di basement, termasuk saya saat itu. Masalahnya, kondisi basement ini berbeda-beda di setiap rumah. Saya sendiri merasa puas dengan kamar mandi pribadi dan kamar yang cukup luas untuk saya sendiri.

Beberapa kenalan malah mendapatkan basement yang lengkap dengan dapur pribadi juga. Sehingga rasanya seperti tinggal di flat milik sendiri.

Akan tetapi, ada juga rumah dengan basement yang sebenarnya kurang nyaman untuk ditinggali.

Menurut saya tinggal di basement tidak masalah asalkan: Ada jendela/pintu yang juga memberikan kita akses untuk keluar dalam keadaan darurat. Penghangat ruangan berfungsi dengan baik selama musim dingin. Selain itu, ruangan yang memberikan kita ruang untuk bergerak juga penting. Terkadang ada ruangan yang sudah penuh hanya dengan tempat tidur dan lemari yang dijejali sebisanya.

Ruangan pribadi ini sangatlah penting, karena saat kita lelah atau ingin menghabiskan waktu di akhir pekan di rumah saja, ruangan pribadi kitalah yang akan menjadi wilayah utama kita.

PANDANGAN ORANG DENMARK TERHADAP AU PAIR

Dari banyak cerita yang saya dengar tentang au pair Denmark yang sudah pernah mejadi au pair di negara lain, Denmark bukanlah negara yang ramah untuk au pair.

Beberapa teman yang pernah serial dating, malah pernah merasa didiskriminasi karena sudah mengaku sebagai au pair di awal chatting.

Saya sendiri juga beberapa kali pernah merasa tidak nyaman ketika memperkenalkan diri sebagai au pair di beberapa kesempatan. Satu kali ada yang pernah bertanya, apa yang ingin saya lakukan setelah au pair. Saya pun mengutarakan keinginan saya untuk bisa melanjutkan kuliah di Eropa. Akan tetapi si penanya memberikan pandangan aneh. Sepertinya adalah suatu hal yang baru, ada au pair yang ingin melanjutkan pendidikan.

Di lain waktu, malah host family saya yang memberikan pandangan terkejut ketika saya ingin ikut kursus bahasa Denmark. Katanya, au pair sebelumnya malah tidak mengikuti kursus bahasa sama sekali.


Tidak semua hal tentang Denmark itu buruk. Saya sendiri rindu bersepeda di Copenhagen yang memiliki jalur sendiri untuk kendaraan roda dua ini. Ada juga orang Denmark yang bekerja di organisasi yang membela hak-hak au pair.

Akan tetapi, tanpa bermaksud menggurui, saya harap tulisan ini bisa menjadi bahan pikiran bagi teman-teman yang ingin mencoba program au pair, khususnya di Denmark.

Saran saya, mungkin cobalah dulu mencoba peruntungan untuk mencari host family di negara lain. Terutama jika kalian baru mencoba au pair pertama kali, langsung ke Denmark bisa menyebabkan shock atau bahkan depresi.

Semoga artikel saya kali ini bermanfaat untuk teman-teman pembaca 😊

One thought on “Au Pair Denmark: Uang Saku Tingi, Tapi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top