Cerita Au Pair: Tentang Tinggal di Eropa

Dari dulu aku selalu semangat ketika bertemu, membaca, atau melihat orang-orang yang tinggal di luar negeri. Pikir ku keren sekali mereka bisa memulai baru di tanah antah berantah yang bahkan mungkin belum pernah mereka datangi sebelumnya.

Melihat gambar-gambar dedaunan yang penuh warna, gedung-gedung dengan arsitektur yang sangat berbeda, dan melihat salju. Sepertinya semuanya sangat menyenangkan.

Semakin dewasa, semakin sering aku mencari informasi untuk bisa pergi ke Eropa. Entah itu lewat konferensi, lomba, bahkan sampai mencari beasiswa. Aku bersyukur walaupun jalanku tidak selalu mulus, tapi ada saja jalan yang akhirnya membawa ku ke Eropa.

Sebelum tinggal di Eropa, aku suka membaca perjuangan orang-orang yang memulai hidup dari nol ketika di Eropa. Ijazah S1 dari Indonesia yang tidak mudah untuk diakui di Eropa membuat banyak orang harus merangkak dari bawah untuk pada akhirnya bisa hidup mapan di benua biru ini.

Satu kali aku mendengar, ada seorang wanita yang sudah sangat mapan di Indonesia. Bekerja sebagai manager, punya rumah, punya mobil, serba mapan. Saat wanita ini memutuskan untuk mengikuti suaminya dan pindah ke Eropa, ia harus memulai dari bawah dan bahkan membersihkan toilet! Bayangkan posisi yang sudah nyaman, harus berganti dan memulai dari awal lagi. Tapi pada akhirnya, wanita ini memang mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kualifikasi yang dimiliki.

Dari situ aku tau, hidup di negara orang dengan budaya, tingkat ekonomi, dan suasana yang jauh berbeda dengan Indonesia tidaklah mudah. Belum lagi perbedaan budaya. Kalaupun bisa kuliah sampai jenjang tinggi tetapi tidak menguasai bahasa setempat, pastilah tidak mudah menemukan pekerjaan. Karena pada akhirnya, ketika bekerja kita harus mampu berbicara dengan lancar dengan kolega, dsb.

Akan tetapi, aku jadi makin semangat…

Pertama kali singgah di Eropa, tahun 2014

Hal inilah yang kuingat ketika situasi menjadi sulit.

Aku memang belum semapan wanita yang kusebut sebelumnya. Tapi saat itu aku sudah lulus dan menjalani pekerjaan yang kusenangi. Akan tetapi, keinginan untuk berpetualang di negeri impian belum juga pudar.

Akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk menjadi au pair. Aku besyukur sekali. Walaupun memang tidak semuanya selalu berjalan lancar, but I can say I enjoy the process or at least I always try to πŸ™‚

Perlu diingat bahwa berbedaan budaya bukan hanya sekedar budaya berupa tari-tarian, musik, atau pun bahasa. Budaya sesungguhnya terpancar dari cara hidup manusia di suatu tempat tertentu. Cara orang memandang hidup, melihat suatu masalah, sampai memerhatikan lingkungan bisa menjadi sangat berbeda.

PANDANGAN TENTANG HIDUP

Di Indonesia, sepertinya pandangan “membanting tulang” sangatlah marak karena memang kenyataannya ekonomi di Indonesia masih tergolong sulit. Masih banyak sekali orang yang harus berusaha dengan sangat keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarga. Sehingga, kebanyakan hidup kita dihabiskan (mungkin) untuk memikirkan masalah ekonomi yang mempengaruhi banyak aspek mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga pendidikan dan masa depan keluarga.

Kebanyakan negara di Eropa, terutama di wilayah Skandinavia, adalah negara maju. Pemerintah bertanggung jawab atas penduduknya. Setiap penduduk pun wajib membayar pajak yang nantinya akan digunakan untuk keperluan setiap warga yang membutuhkan. Di Denmark misalnya, berapapun penghasilan si orang tua, mereka akan tetap bisa mengirim anaknya ke universitas. Bahkan kalau si anak mau melanjutkan studi, pemerintah akan memberikan uang saku yang jumlahnya sangat lumayan setiap bulannya. Bayangkan, sudah gratis dapat duit pulak!

Hal inilah yang membuat masyarakat di Eropa tidak lagi hanya fokus pada masalah ekonomi, tetapi juga kesetaraan gender, keadilan sosial, lingkungan, hingga energi.

Aku jadi ingat ibu asuh ku bilang bahwa sejak kecil, anak-anak di Denmark sudah diajarkan berapa energi yang dihabiskan hanya untuk merebus air!

MELIHAT SUATU MASALAH

*Kring kring*

Sepeda dibelakangku membunyikan bel. Tapi apa daya, dia sudah keburu menabrak ku dan jatuh ke sisi lain. Aku deg degan, siap siap disemprot wanita yang sepedanya jatuh tersebut. Kuparkir saja sepedaku sembarangan sambil berkali-kali berkata “Sorry, are you okay?” dan bukannya marah wanita ini malah menasihatiku dengan tenang walaupun napasnya masih tersengal-sengal “Always stay on the right, always“.

Selesai. Lanjut gowes.

Pengendara sepeda punya jalur tersendiri

Bayangkan kalau aku nabrak angkot di Indonesia. Apalagi kalau abang angkotnya orang Ambon atau Batak. Matek lah aku disemprot.

Tapi memang kebanyakan orang yang kutemui sangatlah logis dan tenang ketika berhadapan dengan masalah. Mereka biasanya akan melihat akarnya “Why does it happen?” bukannya mengeluarkan sumpah serapah yang hanya berdasarkan perasaan sementara saja. Mereka akan mencoba melihat dari sisi logis. Kalaupun seseorang melakukan kesalahan, mereka juga akan berusaha melihat kenapa orang tersebut melakukannya, bisa saja kan karena tidak tahu (seperti aku yang meleng waktu naik sepeda).

Kalau satu kali kalian berkesempatan untuk berada di lingkungan beda budaya dan kalian dinasihati karena suatu hal, bersyukurlah dan jangan diambil hati. Karena orang Eropa sangat to the point dan pada akhirnya kalian akan berterimakasih untuk masukan (bisa juga complain :D) dari mereka.

MEMERHATIKAN LINGKUNGAN

“Tessa, tolong tutup panci rebusan airnya. Energi yang dikeluarkan bisa sia-sia”

Microwave itu bisa merubah molekul air dari makanan”

“Pajak air itu sangat mahal, jadi kita harus berhati-hati ketika menggunakannya”

“Kalau pakaiannya hanya sedikit, lebih baik tidak usah pakai pengering. Karena selain merusak pakaian, energi yang dikeluarkan juga sia-sia”

Pertama kali rasanya mulut ku menganga lebar ketika mendengarkan penjelasan terebut (mengaga dalam hati saja hehe). “Astaga, sungguh ribet sekali hidup ini” gumamku dalam hati.

Tetapi pada kenyataanya, tingkat kebersihan dan pemahaman akan lingkungan orang Eropa sangat lah tinggi. Aku pun menjadi lebih terbiasa dan paham kalau itu semua bukan larangan tetapi alasan yang sangat bermanfaat.

Di Eropa orang memilah sampah sampai lebih dari empat bagian. Mereka sadar akan penggunaan zat-zat berbahaya (di Indonesia masih banyak orang menjual kue yang diberi pewarna tekstil :(). Penggunaan energi dengan sebaik-baiknya juga sangat-sangat diperhatikan bukan hanya oleh pemerintah, tetapi oleh individu-individunya.

Patuh aturan bahkan saat menyebrang

Bahkan di Copenhagen, para pengendara sepedah menempuh jarak total hingga 1,2 juta km setiap harinya! Fantastis! Bukan hanya mudah dan efisien, menggunakan sepeda juga memberikan dampak yang baik untuk kesehatan dan lingkungan.

Begitulah kira-kira sedikit pandanganku tentang tinggal di Eropa, khususnya di wilayah Skandinavia. Mudah-mudahan bisa memberikan sedikit gambaran tentang kehidupan di negeri viking ini.

Salam hangat dari Copenhagen yang mulai dingin πŸ™‚

One Comment Add yours

  1. Nin says:

    Kamu yakin hf kamu betul2 pemerhati lingkungan, bukan sedang penghematan? ;p Nosy yes!

    Waktu di Belgia dulu, aku diceramahi soal global warming gara2 naikin temperatur ruangan dari 19 ke 23 doang saat winter. Pas aku ceritain ini ke host dad lain, doi bilang, kalo itu hanya akal2an hf untuk mengurangi biaya. So, it’s all about money, bukan lingkungan.

    Hope you enjoy your stay in Denmark! Tugas au pair di Denmark itu berat ~

    Cheers!

Leave a Reply

Your email address will not be published.