Ramsau, Desa Magis di Pinggir Jerman

Gereja St. Sebastian, Ramsau

Masih lengket benar di ingatanku, gambar gereja tua di pinggir sungai yang ada di rumah ku saat kecil. Gereja itu bercat putih, dengan atap kayu dan tak jauh dari gereja itu ada sungai kecil berair jernih.

Mungkin bagi orang yang melihatnya, gereja tersebut terlihat biasa saja. Hanya potongan gambar gereja tua di negeri antah berantah.

Tapi entah kenapa, versi kecilku melihat keindahan gereja itu. Tempat itu. Sinar matahari yang mengenai gereja membuat gambar tersebut terasa hidup, nyata, dan hangat.

Versi kecil ku dengan polos membayangkan bagaimana rasanya berada di dekat gereja tua itu. Sinar matahari yang hangat dan suara gemercik aliran sungai. Pasti sangat menenangkan.

“Satu saat aku akan mengunjuingi tempat itu” bisikku dalam hati.

Tahun demi tahun berlalu, aku sedikit lupa dengan gereja tua itu.

Sampai akhirnya…

Di jaman serba modern ini, banyak sekali teknologi-teknologi yang memungkinkan kita untuk melihat tempat-tempat baru. Situs-situs dan akun travelling, banyak yang memuat gambar-gambar yang membuat kit menahan napas.

Satu kali kulihat gambar gereja tua dan sungai kecil di sampingnya. Tetap cantik, tetap damai. Di sisi atas gambar tersebut tertulis nama satu lokasi:

Ramsau bei berchtesgaden

Aku pun dengan semangat bercerita pada bonbon tentang tempat impianku. Tak disangka-sangka, bonbon ternyata familiar dengan tempat itu. Katanya, itu tidak jauh jika berkendara dari tempatnya tinggal.

Beberapa bulan kemudian,

Aku duduk di kursi penumpang , dengan bonbon di sisi kiriku dengan fokus menyetir di jalanan yang licin bekas hujan. Jajaran pegunungan hijau yang dipenuhi pohon pinus menjalar di sisi kanan kiri jalan, sejauh mata memandang.

Di sisi kananku mengalir sungai yang meliuk-liuk, sepertinya alirannya menuju ke Austria.

Kaki ku bergoyang-goyang dengan tidak sabar. Setelah beberapa lama menyetir, akhirnya sampai juga kami di Ramsau.

Menemukan tempat parkir di sisi jalan

Saat itu, kami pikir cuaca yang kurang bersahabat akan merusak suasana. Akan tetapi, butir hujan rintik-rintik, kabut tipis yang menyelimuti bukit yang melatari desa tersebut, dan hawa dingin segar yang berhembus malah memberikan kesan magis terhadap desa kecil itu.

Aku sangat bersemangat dan mencoba untuk turun ke sungai, menggengam air dingin yang jernih. Beberapa pasangan muda dan tua datang untuk duduk di pinggiran sungai atau sekedar mengamatoi keindahan gereja tua dan sungai kecil itu.

St. Sebastian dari sisi lain
Tempat menampung air jernih

Ternyata tempat ini cukup terkenal, walaupun memang bukan destinasi paling banyak didatangi turis.

Kata bonbon, gereja ini adalah gereja pertama di Jerman di mana lagu “Malam Kudus” atau “Silent Night” dinyanyikan. Kemudian ada seorang pelukis yang datang dan melukis gereja dan sungai itu, dari satu sisi yang kemudian banyak direproduksi oleh turis maupun fotografer professional.

Di pinggir memang ada beberapa kursi taman yang sepertinya pernah digunakan si pelukis, karena sisi pemandangan yang terlihat apabila kita duduk sama dengan yang kulihat di gambar-gambar.

Sedikit potret desa kecil, Ramsau

Desa magis ini bukan hanya berisi potret nyata dari seorang pelukis. Jajaran pegunungan dan hutan pinus, rumah-rumah penduduk, bahkan rumah makan kecil tempat kami memesan sup hangat dan kue buah manis semuanya terasa menyenangkan.

See you again lovely, Ramsau

You’re one of the best places I have visited!

One Comment Add yours

  1. Keren banget ya kotanya, aksesnya susah ga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *