Cerita Au Pair: 4 Bulan – Memulai lagi Denmark

Akhrinya ada semangat untuk menulis juga 🙂

Sudah sebulan lebih aku di Denmark. Kata orang tua asuhku sih, aku au pair yang paling cepat beradaptasi dibandingkan tiga au pair mereka sebelumnya. Gimana engga, hari ketika aku diberikan sepeda, hari itu juga aku mabuuuuur mulai menjelajah daerah sekitar.

Aku sempat kaget ketika au pair sebelumku sudah tinggal selama 2 tahun di Copenhagen dan belum pernah mendatangi ikon kota berupa patung puteri duyung kecil sama sekali.

The Little Mermaid, Copenhagen

Minggu-minggu awalku mengerikan. Bukan saja lelah karena baru saja “diusir” dari rumah keluarga asuh lama, tapi juga kaget dengan situasi di rumah baru. Keluarga asuhku yang sekarang ini benar-benar disiplin dan detail. Awalnya aku sampai geleng-geleng kepala karena merasa si ibu gila kebersihan.

Aku ingat satu kali mamaku menelfon ku dan berkata,

“Tessa kok mukanya tegang banget?”

Sampai satu kali ibu asuhku bertanya,

“Tessa are you okay? Are you happy? You seem unhappy, is that because of us?”

Deg.

Masa iya tiba-tiba aku nangis-nangis dan kesal ga jelas?

Berkali-kali aku berfikir untuk mencari keluarga baru. Aku banyak bertanya kepada teman-teman au pair yang sudah lebih lama menjadi au pair di Denmark. Kebanyakan mereka berkata bahwa begitulah au pair di Denmark, terutama au pair dari Asia banyak disalahgunakan sebagai maid.

Alasan itu juga yang membuat beberapa waktu lalu sempat ada wacana bahwa pemerintah Denmark akan meniadakan program au pair untuk penduduk dari luar Eropa.

Menurutku, ini bukan hanya salah host family saja tapi juga beberapa oknum au pair. Satu kali saya melihat beberapa postingan au pair yang mengaku pernah bekerja di Arab, Dubai, Hongkong, Taiwan, dll. Dengan kata lain, mereka pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di negara-negara tersebut. Oknum-oknum tersebut bahkan tidak sungkan untuk menulis “I am willing to do more than what is asked“.

#KACAU

Hal ini yang membuat banyak keluarga asuh dengan mudah berfikir “It is okay to let an au pair do this“.

#HADUH

Daripada saya berceramah panjang lebar, langsung saja ke rangkuman cerita saya bulan ini 🙂

K E L U A R G A A S U H

Keluarga asuhku sudah sangat berpengalaman dengan au pair. Aku adalah au pair keempat mereka.

Anak pertama mereka spesial, karena memiliki kerusakan otak. Walaupun begitu, si anak pertama ini justru yg paling mudah didekati. Kerusakan otaknya mempengaruhi kemampuannya mengontrol keseimbangan dan emosi. Tetapi, gadis kecil ini sangat pandai mengerti bahasa baru. Maka itu aku dengan mudah berbicara bahasa Inggris dengannya.

Satu kali ia berbicara dalam bahasa Denmark yang kemudian diterjemahkan oleh orang tuanya,

“Aku rindu Tessa, Tessa akan pergi ke Jerman”

Aku kaget bagaimana ia tahu kalau aku akan bepergian ke Jerman. Ketika kutanya ke si bapak, ia berkata,

She knows things

Wow. Bikin penasaran hehe

P E R A S A A N K U

Bersyukur. Walaupun sempat melewati masa sulit sampai harus pindah negara, aku bersyukur izin tinggal ku di Denmark granted dan aku bisa tinggal sampai tahun 2020.

Kadang ada saat-saat aku masih galau juga, tapi aku ingat tujuan utama ku menjadi au pair:

BERDIKARI* dan MENCOBA HIDUP DI EROPA DARI BAWAH

*Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Kalau aku tinggal bersama keluarga yang membuat ku nyaman, mungkin aku akan selalu merasa puas tapi aku gak akan belajar apa-apa.

Di keluarga ini aku benar-benar belajar disiplin waktu dan diri. Aku juga senang karena ternyata aku jadi lebih pintar memasak. Memasak daging babi panggang kriuk, pancake isi sayur dan oregano, sampai daging rusa!

Sekarang aku benar-benar berada di luar zona nyaman yang berarti aku berada di kondisi di mana aku bisa benar-benar banyak belajar.

Kupikir-pikir, etos kerjaku sekarang akan sangat bermanfaat apabila suatu saat aku ingin kuliah sambil bekerja paruh waktu.

Walaupun disiplin, sebenarnya kedua orang tua asuh ku baik dan selalu mengucapkan terimakasih apabila aku selesai melakukan sesuatu.

T E M P A T Y A N G S U D A H D I K U N J U N G I

Nggak banyak. Tapi aku senang bisa keliling beberapa spot cantik di Copenhagen naik sepeda baruku yang kuberi nama Tabby 🙂

Pokoknya aku jadi sering bersepedah. Mulai dari menjelajahi danau di dekat tempatku tinggal, hingga mendatangi tempat-tempat yang penuh turis.

Bersepedah ke Rosenberg Castle

M E M O R I T E R B A I K

Saat aku down, banyak teman-teman dan keluarga yang menyemangati. Terimakasih 🙂

P E L A J A R A N

Setiap hal itu ada alasannya, demikian pun orang tua asuh ku sangat disiplin karena anak pertama mereka spesial. Apa-apa alergi, jadi mereka serba hati-hati.

Aku juga banyak belajar melihat kesabaran kedua pasangan ini. Terkadang aku tau mereka tidak tidur cukup semalaman dan mereka menghadapi kemarahan si anak dengan sangat sabar. Terkadang aku terharu.

P E N C A P A I A N

  • Memasak daging-dagingan, umbi-umbian, kacang-kacangan. Segala macam 🙂
  • Bersepedah 14 km setiap minggu
  • Menjelajahi Copenhagen dengan sepedah
  • Keluar dari zona nyaman
  • Merasa lebih mandiri

Untuk saat ini itu dulu yang bisa aku tulis.

Happy September 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *