Cerita Au Pair: 5 Bulan – Mengisi Waktu

Gak pernah terpikir kalau aku bakalan mengunjungi Skandinavia, apalagi dapet izin tinggal sampai dua tahun ke depan.

Walaupun sempat diusir dari rumah host family sebelumnya, aku bersyukur masih bisa menginjakkan kaki di belahan bumi utara. Aku bahkan sampai pindah dan sekarang tinggal di Denmark bersama keluarga baru. Gak pernah kepikiran deh! hehe

Tujuan awalku menjadi au pair salah satunya sebagai pelampiasan karena sudah diterima di universitas tapi belum bisa berangkat karena masalah biaya hiks

Baru-baru ini, aku sering merasa kurang kerjaan. Padahal kerjaanku setiap hari tuh lumayan banyak. Cuma karena sudah terbiasa, rasanya sudah begitu-begitu saja. Jadilah aku mencoba mengisi waktu, mulai dari berkunjung ke perpustakaan, menjelajahi Copenhagen, ke museum, bersepedah, mendatangi danau-danau, membaca, menulis, menonton.

Berjalan kaki keliling pusat kota

Aku juga menyempatkan memikirkan tentang masa depan. Ha! Memang dasarnya aku ini pemikir 😜

Karena masih semangat mau kuliah lagi, aku sempat menghitung-hitung berapa lama aku harus menabung. Aku pun juga sempat melihat-lihat universitas di Belgia, yang memang biaya kuliahnya tidak semahal universitas di negara lain di Eropa.

db1e3e78
sumber: situs VUB

Karena ingin bisa melanjutkan karir sebagai guru, aku tertarik dengan MSc of Educational Sciences. Siapa tau bisa berguna di masa depan.

Duh, kok aku jadi ngalur-ngidul sih?

Kalau ada yang butuh informasi mengenai universitas dan jurusan tersebut, silahkan diklik:

MSc of Educational Sciences – VUB

Namanya juga berharap, kan tidak ada yang salah asalkan mencoba berusaha.

Tapi kok… kayaknya aku ngoyo* sekali mau kuliah lagi. Belum lagi aku harus menyisakan tabungan untuk keperluan ku di Indonesia. Rasanya kok hidup di masa sekarang, tapi kurang bisa dinikmati karena terlalu sibuk memikirkan masa depan. (*istilah bahasa Jawa yang berarti memaksakan sesuatu untuk terjadi – terjemahan sendiri)

Pun aku tidak bisa meramalkan apakah satu tahun dari sekarang aku masih benar-benar ingin kuliah atau malah mungkin belum bisa mengumpulkan uang untuk kuliah.

Rasanya seperti tidak punya rasa syukur saja, apa-apa dipaksakan hehe

Dari pada memusingkan masa depan, lebih baik menceritakan pengalamanku di masa sekarang 😊

P E R A S A A N K U

Beberapa waktu kemarin, ibu asuhku memberikanku sekotak cokelat Belgia! Senang sekali rasanya. Bukan hanya karena aku menyukai cokelat tapi karena merasa lebih “hangat”. Beliau juga mengucapkan terimakasih karena telah membantu.

Minggu ini rasanya agak dag dig dug, karena aku menunggu keputusan mereka untuk tanggal liburku di bulan November. Aku takut mereka tidak menyetujui tanggal yang kuminta dan jadi kepikiran tentang liburan, karena au pair sebelumnya tidak mendapat (atau tidak meminta) libur sesuai aturan tertulis: minimal 4 minggu per 1 tahun. Jangan-jangan ke depannya aku bakal sulit meminta waktu untuk liburan. Padahal ini penting sekali, mengingat aku memang sudah ingin jalan-jalan ke beberapa tempat di Eropa.

Entah aku yang sangat ekspresif atau ibu asuhku yang sangat peka, tiba-tiba beliau berkata,

Tessa, you’re a bit sad. Is it about the holiday?

Lah, tau aja enyak, kataku dalam hati. Spontan saja aku menjawab “Yes” sambil meringis.

Intinya mereka akan mengusahakan. Aku juga menyadari peranan au pair sangat penting di dalam hidup mereka. Bagaimana tidak? Au pair yang bangun di pagi hari menyiapkan sarapan dan bekal, memastikan semua persediaan popok aman, merapikan kamar tidur, memasak makan malam dan untuk persediaan, hingga membersihkan debu-debu terfanah 😂

Mereka sudah bersama au pair selama enam tahun lebih, dan sepertinya gadis-gadis itu tidak banyak meminta hak seperti liburan. Lalu datanglah aku hehe 😁

We will do our best, Tessa

Terimakasih enyak, kataku dalam hati. Karena aku sedang merasa biru jadilah aku hanya nyengir saja ke ibu asuhku.

T E M P A T Y A N G S U D A H D I K U N J U N G I

Karena aku sudah mengunjungi spot-spot penuh turis di Copenhagen, aku menggunakan tiket gratis dari International House of Copenhagen dan pergi ke Museum Thorvaldsens.

Sebenarnya aku bukan pecinta museum, tapi karena sudah terlalu sering pergi sightseeing, aku jadi harus memikirkan tempat lain yang belum sempat kulihat di Copenhagen.

Museum ini sebenarnya berisi benda-benda pahatan dan lukisan yang dibuat oleh om Thorvaldsens. Banyak dari hasil karyanya yang berupa patung tanpa busana. Aku jadi geli sendiri hehe

Selfie!

Selain itu, aku juga mendatangi taman di tengah kota, yang kemudian jadi salah satu taman favoritku.

Salah satu temanku memberikan tiket untuk masuk ke Tivoli! Walaupun tidak bisa naik ke wahna-wahana pemacu adrenalin, aku senang sekali karena bisa melihat isi Tivoli dan juga melihat parade.

Parade di Tivoli (Amusement Park)

Oh iya, aku juga mengunjungi Christiansborg Slot. Sayangnya kastil (slot) ini hanya gratis di beberapa area saja.

Christiansborg Slot

M E M O R I T E R B A I K

Sepertinya ketika aku dan dua anak asuhku bermain pasir. Karena mereka sangat “attached” ke au pair sebelumnya, cukup sulit untuk bisa dekat dengan mereka. Sekarang, si kecil bahkan sudah mau bermain bersamaku. Senangnya ❤

P E L A J A R A N

Aku harus banyak-banyak mengingatkan diriku sendiri untuk tidak hidup di masa lampau ataupun masa depan, tetapi mensyukuri kesempatan yang bisa kumiliki hari ini.

P E N C A P A I A N

  • Mulai bisa bicara sedikit-sedikit dengan bahasa Denmark setingkat toddler
  • Lebih bisa berinteraksi dengan anak asuh
  • Lebih enjoy dengan pekerjaan yang tadinya terlihat too much
  • Surat-surat yang kubutuhkan untuk memudahkan hidup di Denmark sudah selesai kuurus. Yihaaa! 😊

Saat ini aku masih memikirkan hal-hal berguna apalagi yang harus kugunakan untuk mengisi waktu luang. Mungkin aku bisa meminjam buku atau sekedar mencari informasi travelling di internet? Yang penting enjoy 🌈😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *