Di suatu pagi di bulan Oktober…

Setelah memotong alpukat, akupun mencampurkannya dengan bubur oat hangat yang biasa aku buat. Biasanya aku memilih pisang atau apel, tapi karena bosan memakannya setiap hari, jadilah aku pilih alpukat.

“Ummm Tessa, itu kan alpukat. Kamu tau kan itu mahal, *menyebutkan harga*”

Jadilah aku memulai hari degan istigfar sebanyak-banyaknya.

Aku jadi ingat, di kantor Mama ku dulu ada beberapa orang yang membantu mama. Mama sering ingat mereka kalau kami sedang jalan-jalan. Kadang mama juga memberikan makanan atau kue buatannya untuk mereka. Mungkin pendapatan mama jauh dari puluhan ribu krona, tapi aku tau mamaku berhati kaya.

Ketika aku cerita ke teman-teman yang adalah orang Indonesia, sontak mereka semua merasa kalau perhitungan terhadap makanan itu berlebihan.

Tapi saat aku bercerita ke bonbon yang adalah orang Eropa (dan selalu berusaha berfikir positif), ia cuma bilang mungkin itu untuk anak-anaknya.

Iya sih aku memang bukan anaknya, tapi kok segitunya. Di satu sisi aku merasa belum bisa memaklumi sikap kebanyakan orang Eropa yang “I will only give as much as you want to give” alias P-E-R-H-I-T-U-N-G-A-N tapi di sisi lain ya aku berusaha berfikir positif.

Kalau menurut kalian, apakah aku terkena culture shock?

P E R A S A A N K U

Dilema.

Sudah tiga bulan aku berusaha menghidupi kehidupan dengan keluarga baru, tapi kok rasanya masih “asing”. Kadang aku merasa bersalah karena tidak banyak meluangkan waktu untuk anak-anak asuhku, tapi di sisi lain aku seringkali capek setelah beres-beres dan rasanya ingin istirahat saja.

Di pikiranku aku masih maju mundur, mau begini atau begitu.

Aku sadar aku tinggal di rumah orang lain dan tentunya harus berusaha memahami cara hidup mereka.

Istilahnya, di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung.

Walaupun terkadang, rasanya merindukan suasana yang lebih relaks, bebas dari keperfeksionisan, dan juga hangat.

T E M P A T Y A N G S U D A H D I K U N J U N G I

Beberapa minggu lalu aku mendatangi tempat temanku di daerah tepi pantai. Baru tau ada tempat cantik seperti itu gak jauh dari Copenhagen. Tempatnya damai, gak terlalu banyak sepedah seliweran. Lebih banyak mobil-mobil mewah yang notabene dimiliki oleh pemilik rumah-rumah besar di pinggir pantai tersebut.

M E M O R I T E R B A I K

Salah satu keluarga asuh temanku adalah pemilik beberapa cafè dan bar di Copenhagen. Gilaknya, si bapak asuh temanku ini mempersilahkan dia dan beberapa temannya (termasuk aku) untuk menikmati hidangan makan malam dan minum-minum di bar, GRATIS! Sontak keluarga tersebut mendapatkan predikat keluarga asuh terbaik!

Gratis, yeay! 😊

Walau aku gak suka minum (karena pahit! haha), tetap saja menurutku malam itu malam tersebut adalah salah satu malam terbaik sepanjang masa au pair. Tentu saja karena semuanya gratis dan seru karena tidak sendiri 😊

P E L A J A R A N

Aku mesti banyak bersabar dan mencoba berfikir jernih supaya kalaupun aku mengambil langkah, aku bisa merencanakannya dengan matang.

P E N C A P A I A N

Sepertinya bulan kemarin aku agak mandek. Dalam satu bulan saja aku hanya menulis kurang dari lima tulisan di blog. Harus banyak-banyak mengesampinkan rasa galau dan lelah supaya bisa lebih produktif.

Karena sedang masuk angin dan ingin cepat kembali ke kamarku yang hangat, sampai di sini dulu yaa ☕

Semoga kalian yang sedang menyimpan beban di dalam hati boleh mendapatkan kelegaan. Semangat 😉😇

Abigail Tessa