p_20181130_171001-01-012063084122.jpeg

Di jaman serba modern ini, penyakit mulai aneh-aneh. Bukan hanya penyakit, tapi kebutuhan manusia milenial juga makin beragam. Salah satu kebutuhan yang pasti dimiliki oleh semua orang adalah: kepastian mengenai masa depan. Waduh? Kayaknya it’s too deep deh!

Tapi kalau kita perhatikan, semua orang pasti pengin punya kepastian akan masa depan mereka. Nggak sedikit juga yang masih bingung memikirkan langkah apa yang hendak diambil selanjutnya. Kalau bahasa populernya sih, galau. Galau tentang mau masuk universitas mana, nanti setelah kuliah bekerja di mana, setelah berkarir mau ngapain… Pokoknya ada saja deh pertanyaan yang terkadang hinggap di kepala. Ada yang bisa relate?

Di masa sekarang ini, salah satu jenis kegalauan yang dimiliki orang-orang seumuranku sering disebut: QUARTER-LIFE CRISIS.

Kenapa “quarter“? Karena sesuai usia orang yang mengalaminya, kurang lebih seperempat (quarter) abad.

“a crisis that may be experienced in one’s twenties, involving anxiety over the direction and quality of one’s life”*

*Dikutip dari: dictionary.com

Kalau menurutku pribadi sih, quarter-life crisis ini normal dan dialami oleh banyak orang termasuk aku sendiri. Namanya juga masih muda, masih banyak yang ingin diraih. Kalau nggak galau sama sekali, bisa ada dua kemungkinan: sudah merencanakan semuanya dengan baik atau cuek bebek. Nah, aku pribadi nggak bisa cuek, karena memang sudah dasarnya pemikir.

Lantas, apa saja yang bisa dilakukan  dan diingat saat mengalami quarter-life crisis ini?

 

INGAT: HIDUP INI GAK PUNYA FORMAT

Kalau aku melihat teman-teman sebaya, banyak yang sudah menikah dan punya anak. Ada juga yang sibuk meniti karir atau seperti ku ini, masih menjelajah di bagian dunia yang lain. But hey, hidup kan nggak ada formatnya!

Hanya karena ada teman yang menikah di umur 21, bukan berarti kita harus ikutan. Jangan karena melihat orang lain habis lulus SMA terus langsung kuliah, lalu kita jadi ingin melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, setiap orang punya tantangan dan berkatnya masing-masing. Ada yang bisa cepat kuliah karena dibantu orang tua, ada yang masih harus bekerja. Semua orang punya titik mulainya masing-masing yang terkadang nggak bisa kita atur sendiri. Tapi kalau masa depan? Tentu saja bisa kita usahakan sebaik-baiknya.

Jadi nggak usah takut kalah saing karena pada akhirnya, hidup itu nggak punya format harus begini dan begitu. Kita semua punya timeline masing-masing yang tentunya nggak bisa dibandingkan satu dengan yang lain. Jalani saja semaksimal mungkin dan jangan lupa untuk bersyukur dan bahagia.

TERIMALAH DENGAN LAPANG DADA

Seperti pendapatku sebelumnya, menurutku bingung hendak melakukan apa di masa depan adalah hal yang lumrah. Belajar saja untuk menerimanya sambil berusaha fokus untuk mengerjakan apa yang kita miliki di masa sekarang. Memang pada akhirnya, nggak semua hal bisa langsung terjawab, terkadang perlu proses. Jangan juga jadi menyalahkan diri sendiri karena pada akhirnya malah membuat kita sendiri menjadi stress.

screenshot_20181214-140242_1-1359598279.jpg

MENCARI KESIBUKAN

Dari pada membiarkan pikiran mengawang-awang, lebih baik mencari kesibukan. Terkadang, ada orang yang punya passion tertentu dari lahir, belum tentu kita juga seperti itu. Sibukkanlah diri kita untuk mencoba hal-hal baru. Misal mencoba mendalami skill tertentu, bisa saja kan berguna di masa depan.

Kalau kita mencoba banyak hal saat ini, siapa tau kita menemukan hal yang benar-benar kita suka dan pada akhirnya ingin kita jadikan karir atau kegiatan yang berguna di masa depan.

Waktu kuliah dulu, aku kuliah di jurusan yang nggak kusuka. Tapi aku berusaha mencari kesempatan untuk ikut ini itu dan kutemukan bahwa aku sangat suka bidang bahasa Inggris! Jadilah kudalami terus sampai mengambil IELTS dan TOEFL. Ternyata nilai-nilai yang kudapat sangat bermanfaat ketika aku mendaftar sebagai tenaga pengajar bahasa Inggris. Siapa sangka? 🙂

JUJUR PADA DIRI SENDIRI

Terkadang, kita sibuk berusaha memenuhi tuntutan sosial sampai lupa untuk jujur dengan diri sendiri. Misalnya saja, kalian suka bahasa tetapi orang tua melarang untuk mengambil jurusan sastra karena takut nggak dapat pekerjaan. Alhasil kalian bekerja di bidang yang berbeda juga. Mungkin kalian bisa, tapi belum tentu menyenangkan. Seandainya kalian nggak takut ikut kata orang, mungkin ceritanya bisa berbeda.

Coba kita berusaha untuk jujur dengan diri kita sendiri. Apa sih yang senang kita lakukan? Apakah kita benar-benar bahagia dengan pilihan kita sekarang dan di masa depan?

BERSYUKUR DAN TETAP BELAJAR BAHAGIA

Walaupun galau, nggak ada salahnya dong untuk tetap bersyukur dengan kesempatan yang kita punya sekarang?

Nggak sedikit orang di luar sana yang nggak sempet galau, karena memang nggak punya pilihan lain.

Kalau masih diberikan kesempatan untuk punya banyak pilihan, berarti kita masih beruntung. Jadi jangan lupa untuk tetap berbahagia dan nggak cuma sibuk mengkhawatirkan masa depan.

Kalau sudah berusaha, pada akhirnya waktu yang akan menjawab.

Semoga kita tetap percaya pada kekuatan mimpi kita dan terus berusaha untuk mengusahakannya 🙂

Abigail Tessa