Site Overlay

Cerita Au Pair: 8 Bulan – Natal Pertama di Eropa

p_20181227_110938-01-011043167163.jpeg

Sore itu Sabtu tanggal 22 Desember 2018

Dengan terburu-buru aku menyelesaikan segala pekerjaan ku hari itu. Di Denmark, pemerintah memberikan aturan bahwa au pair berhak mendapatkan minimal 1.5 hari libur setiap minggunya. Kalau dapat keluarga asuh yang santai, mungkin bisa dapat 2-2.5 hari libur.

Seperti biasa hari Sabtu merupakan hari yang kutunggu. Saat musim panas aku biasa bepergian dengan sepedah keliling kota atau hanya danau besar dekat rumah tempatku tinggal. Kali ini, keluarga asuhku memberikanku izin untuk libur natal dan tahun baru.

Persiapan natal di Denmark bisa dikatakan cukup meriah. Di pusat kota kita bisa melihat dekorasi lampu natal yang cantik, pohon natal raksasa, dan pasar-pasar natal yang dipenuhi makanan dan pernak-pernik natal. Bahkan, tidak sedikit rumah-rumah yang didekorasi secara besar-besaran.

Dengan semangat ’45 akupun mengemasi koper super besar yang kuberi nama ”Barbara” (aku punya kebiasaan unik untuk menamai barang-barang ataupun orang. Entah kenapa koper hitam ku itu terlihat seperti Barbara).

Ketika sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba salah satu hosts ku memanggil, sambil ragu-ragu salah satu anak asuhku memberikanku hadiah yang sepertinya dibungkus sendiri dan kemudian si bapak pun berkata bahwa itu adalah hadiah natalku. ”Terimakasih atas bantuanmu” katanya sambil tersenyum. Aku pun serta merta berkata bahwa aku juga memiliki hadiah untuk ketiga anak asuhku. Si anak tengah pun menghitung ”en, to, tre”, maksudnya penasaran apakah ada tiga hadiah untuk masing-masing anak asuhku.

Aku jadi agak kecil hati. Belakangan sebelum natal, hosts ku meletakkan semua hadiah di dalam kamarku karena ingin menyembunyikannya dari anak-anak. Tapi hari itu yang kudapat sepertinya hanya selembar kertas berisi gambar yang dibuat oleh anak asuhku. Tebakanku ini karena si anak tengah baru saja membungkus gambar karyanya untuk kakek-neneknya. Entah kenapa aku jadi lunglai, sudah kerjaan banyak, dititipi banyak hadiah, tapi aku dapat selembar kertas bergambar…..

Beberapa jam kemudian pesawatkupun mendarat di Munich, salah satu kota besar di Jerman. Natal kali ini akan kuhabisnkan bersama bonbon dan keluarganya. Senang sekali karena momen ini bisa menjadi pelipur lara.

P E R A S A A N K U

Bulan Desember dan November lalu aku mendapatkan dua kali jatah libur, lumayan sebagai pengusir rasa penat akibat bekerja tanpa lelah sebagai au pair di Denmark.

Paling senangnya karena bisa menghabiskan momen natal bersama bonbon dan keluarganya. Kebanyakan waktu memang kami habiskan di rumah, tapi area tempat tinggal bonbon sangat tenang. Desa kecil di daerah Bavaria ini hanya dihuni oleh sekitar 1700 penduduk. Areanya dikelilingi oleh hutan pinus dan juga ladang luas dilengkapi dengan rumah-rumah khas Jerman. Benar-benar mengingatkanku pada gambar-gambar di buku dongeng.

T E M P A T B A R U

Bulan Desember lalu aku mengunjungi pasar natal di kota Regensburg, Jerman. Pasar natalnya besar sekali karena digelar di area kastil.

Selain itu, ibu bonbon juga sempat mengajakku jalan-jalan sore di kota cantik bernama Amberg. Di kota ini terdapat sungai dan juga katedral yang sangat besar sekali. Ibu bonbon menyempatkan waktu untuk mengajakku mampir ke kedai kopi yang cukup ramai pengunjung.

p_20181228_142110-01-561746072.jpeg
Amberg

Saat tahun baru (Di Jerman disebut Silvester), bonbon memberikan hadiah kejutan berupa jalan-jalan di Munich. Jadilah, bonbon sibuk mencari penginapan karena aku mengiyakan dengan dadakan hehe

Salah satu tempat favorit yang kukunjungi adalah danau kecil di dekat tempat tinggal bonbon. Danau tersebut sebenarnya adalah milik seorang pengusaha ikan. Meski begitu, danaunya sangat tenang sekali. Perjalanan menuju danau pun kami lalui dengan melewati padang yang becek karena salju yang meleleh dan juga hutan kecil.

img_2602 (1)-01-1667642874..jpg

M E M O R I T E R B A I K

Saat natal bibi bonbon mengundang kami untuk makan bersama. Ini kali kedua aku diundang ke rumah beliau. Seperti biasa setelah bertamu orang Jerman biasanya berpamitan untuk pulang. Layaknya kebanyakan orang Eropa, orang Jerman termasuk orang yang reserved dan tidak mudah dekat dengan orang baru. Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang selalu friendly.

Akan tetapi, malam itu setelah makan seharian dan bermain UNO, bibi bonbon memelekku sebelum pergi. Momen ini membuatku merasa sangat diterima dengan hangat.

Selain itu, memori terbaikku juga diisi dengan jalan-jalan secara spontan bersama bonbon ke danau kecil. Tanah yang basah dan cuaca yang dingin tidak mengubah perasaan menyenangkan yang kudapat dari berjalan-jalan dan bercerita tentang hidup hingga kisah tentang temanku di sekolah dasar yang buang hajat terburu-buru di celana. Memang random, tapi yah kalau nggak random then it’s not me! 😀

 

P E L A J A R A N

Aku merasa beryukur karena keluarga asuhku yang biasanya susah dimintai libur tiba-tiba memberikan ku izin untuk menghabiskan natal bersama pacar. Kira-kira begitulah yang mereka sampaikan. Mungkin wajahku yang letih selesai mengerjakan tugas-tugas au pair memberikan sinyal bahwa aku butuh liburan hehe

Soal hadiah natal…

Beberapa hari setelah sampai di Jerman, aku teringat hadiah natal yang diberikan oleh keluarga asuhku. Kubuka hati-hati kertas kado hasil bungkusan anak asuhku. Ternyata, sisinya adalah tiket terusan satu tahun di Tivoli!

Ya ampun! Aku pun mengutuki diri sendiri karena tidak beryukur dan memandang hadiah tersebut dari bentuknya. Dengan malu akupun bercerita bonbon yang sebelumnya kuceritakan keluhanku.

Sudah beberapa waktu aku berfikir untuk membeli tiket tersebut, karena Tivoli merupakan theme park yang cantik dan juga sangat terkenal di Copenhagen. Tivoli selalu memiliki dekorasi unik di setiap pergantuan musim atau perayaan tertentu seperti natal dan Halloween. Walaupun tidak sebesar Dufan, Tivoli ini benar-benar mendekorasi areanya dengan cantik dan meriah.

P E N C A P A I A N

Gak muluk-muluk, pencapaian terbesarku adalah hidup selama delapan bulan di Eropa!

Bersyukur sekaligus nggak menyangka. Dengan banyaknya tantangan seperti drama dengan keluarga asuh di Swedia hingga kaget dengan situasi per-au pair-an di Denmark, ternyata aku berkesempatan untuk melewati musim dingin pertama, salju pertama, dan natal pertama di Eropa.

img_2609 (1)-01773953938..jpg

Kalau kalian hendak menjadi au pair atau iri melihat kehidupan para au pair di negara lain, ketahuilah bahwa menjadi au pair itu bukan hanya tentang jalan-jalan. Tinggal dan makan di rumah keluarga asuh tentunya memberikan tanggung jawab tersendiri: menjaga dan membantu keluarga asuh dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga asuhku memang sangat detail dan menginginkan banyak hal diselesaikan secara sempurna, tapi aku berusaha menghargai karena pada akhirnya aku tinggal bersama mereka. Sejujurnya di bulan-bulan ini aku banyak mengingat kembali tujuan awalku datang ke Eropa dan berusaha untuk mempertajam tujuan tersebut. Merantau bisa sangat menyenangkan dan juga menantang. Mohon doanya supaya aku tetap bersemangat untuk merantau dan mencari pengalaman di Eropa. Bagi kalian yang ingin menjadi au pair ataupun sedang merantau dengan alasan apapun, mudah-mudahan kalian selalu menemukan your own kind of rainbow after a storm.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *