Denmark vs Indonesia: Negeri Dingin dan Tanah Tropis

Sebelum tinggal di Denmark, aku selalu berfikir kalau tinggal di luar negeri itu pasti lebih seru. Aku membayangkan foto-foto cantik berbagai macam pemandangan yang diambil dari beragam musim yang berbeda, keren sekali pikirku.

Selain itu, otak ku yang sudah ku asupi dengan berbagai macam cerita, sepeti Harry Potter dan dongeng-dongeng dari Eropa sedari kecil, membuatku makin tergiur dengan keindahan negara-negara Barat.

Lalu setelah delapan bulan di Denmark, apakah semuanya lebih baik dari Indonesia?

p_20190120_150519-01-178573535.jpeg

KOTA YANG RAPIH

Selain Copenhagen di Denmark, aku tentunya menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa kota lain di Eropa seperti Malmö di Swedia (terdekat dari Copenhagen), Munich di Jerman, hingga Oslo di bagian yang paling utara. Salah satu kesamaan mereka adalah: RAPIH dan APIK. Kemacetan dan polusi digantikan dengan jalan yang lengang dan sepeda-sepeda yang berseliweran. Transportasi yang terintegrasi juga membuat banyak kota di Eropa lebih enak dilhat.

PEMERINTAH YANG MENGAYOMI

Kalau di Indonesia, sukses atau tidaknya kehidupan sehari-hari kebanyakan bergantung pada kerja keras seseorang. Misalnya, kalau orang tuanya mampu, maka kemungkinan besar si anak dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Lain halnya dengan Denmark, berapapun biaya yang dimiliki atau apapun pekerjaan orang tuanya, si anak akan tetap bisa lanjut sekolah hingga kuliah. Denger-denger sih, bukan cuma kuliahnya yang gratis, tapi si pelajar juga akan mendapatkan uang saku cuma-cuma kalau mau lanjut ke jenjang universitas.

Mungkin karena jumlah penduduknya tidak banyak sekali, makanya pemerintah bisa dengan lebih mudah mengelola pendapatan negara dan kemudian disalurkan ke sektor penting seperti pendidikan warganya (mungkin lho ya).

EMPAT MUSIM

Waktu di Indonesia, kalau gak kepanasan ya kehujanan. Sekarang di Denmark harus siap-siap jaket tebal saat musim dingin, boots saat musim gugur, baju yang nyaman saat musim semi, dan sandal saat musim panas. Menyenangkan memang melihat suasana dan warna daun berubah saat pergantian musim.

MAKANAN SEHAT

Dulu, setauku makanan itu cuma ada dua jenis: yang sudah basi dan tidak bisa dimakan atau yang masih segar dan siap makan. Di Denmark ini banyak sekali jenis makannya, organik atau økologisk, glutenfree, dll. Satu kesamaan makanan tersebut yaitu sangat sehat. Aku jadi mengerti kenapa beberapa teman dari Eropa yang mencoba makanan Indonesia saat berkunjung megalami sakit perut atau keracunan. Perut mereka sudah terlalu terbiasa dengan makanan super higienis sehingga makanan kaki lima di pinggiran Jakarta pun bisa menyebabkan penyakit untuk mereka.

12743693_1301982919827146_787199797918611636_n-01-1686429493.jpeg

Sebaik-baiknya Denmark, menurutku banyak hal baik juga dari Indonesia. Menurutku, negara dengan kepulauan tropis ini punya pesona tersendiri.

ADA SAJA BERITANYA

Dibandingkan dengan Denmark, Indonesia bisa dikatakan ribet. Mulai dari penyebrang jalan yang ogah melalui zebra cross, kemacetan yang menyita waktu, hingga pedagang asongan yang berseliweran. Tapi justru keadaan yang seperti ini membuat Indonesia lebih kaya cerita.

Belum lagi akun-akun media sosial yang punya pengaruh besar seperti La**e T*rah. Sepertinya ada saja yang baru di Indonesia. Di Denmark saking rapihnya, semuanya terasa tentram. Damai sih, tapi terkadang sedikit membuat bosan.

MASYARAKAT YANG PEDULI

Mungkin karena terbiasa dengan kebiasaan orang Indonesia yang ramah, aku merasa kalau di Denmark itu orang-orangnya lebih reserved dan tidak mudah berteman dengan orang baru. Semua orang Indonesia yang kutemui di luar negeri sangat friendly sehingga aku tidak merasa sendiri di negara yang terkadang berawan dan kelabu ini.

Memang sih, terkadang rasa terlalu pedulinya orang Indonesia itu bisa berlanjut menjadi “kepo”. Tapi sejauh ini, aku masih kagum dan mencoba memegang teguh budaya ramah dan gotong royong yang kupelajari sejak dulu.

MATAHARI YANG BERSINAR SEPANJANG TAHUN

Walaupun di Indonesia tidak ada salju, tapi sebenarnya kita diberi anugerah matahari yang bersinar sepanjang tahun. Mungkin terkadang dihadang oleh awan dan hujan, tapi yah kebanyakan rasanya udara tetap panas sampai-sampai ada istilah “neraka lagi bocor nih!”.

Saat musim dingin seperti ini, aku rindu matahari yang hangat. Libur di hari minggu di mana aku bisa leyeh-leyeh di kasur sambil menonton acara travelling dan merasakan hangat sinar matahari dari jendela kamar. Tidak lupa dilanjutkan dengan tidur siang yang ditemani oleh semilir angin. Duh, asiknya…

MAKANAN LEZAT & MURAH

Satu kali semua orang di keluarga asuhku terkena serangan sakit perut. Tebak siapa yang masih sehat? Hanya si au pair alias diriku ini.

Bagaimana tidak? Terbiasa makan gorengan di pinggir jalan, sate yang asapnya berasal dari arang, hingga sayuran dari pasar tradisional membuat perutku ini menjadi tahan banting. Aku sendiri sih memandangnya sebagai sesuatu yang baik. Berdasarkan hasil bacaan dari artikel salah satu majalah, sesungguhnya tubuh kita ini juga memerlukan bakteri jahat tertentu sehingga tidak mudah down ketika terpapar sesuatu yang baru.

Makanan Indonesia menurutku lebih lezat, seperti sambal bawang yang dimakan di warung kaki lima atau bakwan yang diberi micin. Mungkin juga karena tangan si pembuat yang berminyak memberikan kelezatan tertentu? 😛

Selain itu harga makanan yang relatif murah dan ketersediaan tenaga delivery yang siap siaga (GO-J**) membuat semuanya terasa lebih mudah. Terutama saat sendang craving jajanan kaki lima atau pizza box di malam hari. Duh, yang begini ini mahal di Denmark!

Walaupun aku berada di negeri orang, aku sesungguhnya jadi tersadar kalau Indonesia itu nggak jelek-jelek amat. Mungkin memang Indonesia itu bukan negara maju dan masih harus banyak belajar tapi justru keunikan Indonesia ini membuatnya lebih berwarna.

Tinggal di Denmark atau di Indonesia ternyata ada keseruan dan tantangannya masing-masing 🙂

 

One Comment Add yours

  1. Kalau sudah lama ga tinggal di Indonesia, pas ke Indo mau wisata kuliner, nah setelah makan, makan table norit 3 atau 4 butir. Sakit perut karena bakterinya beda di Indonesia dan LN 😀 .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *