20190407_165638-015763377255976607066.jpeg
Memang bisa?

Kopenhagen, seperti layaknya ibukota negara-negara Skandinavia pada umumnya, adalah kota yang mahal. Bukan hanya pendapat ku saja, tapi tidak sedikit survei dan pendatang-pendatang dari negara sekitar (Jerman, Belanda, Inggris, dsb) yang juga mengeluhkan mahalnya biaya hidup di kota ini.

Terkadang aku sendiri mengernyitkan kening. Banyak sekali barang-barang yang bermerk lokal, tapi menurutku kualitasnya kurang bagus. Harganya? Yah jangan ditanya, mahal banget!

Mungkin di sini pajaknya sangat tinggi, sehingga ketika barang-barang masuk dan dijual, harganya pun tinggi. Misalnya saja harga pakaian di H**. Di Indonesia, pakaian dengan merk ini hanya bisa didatangi di mall-mall besar. Di Denmark, ini adalah pakaian segala umat. Tapi jangan salah, harganya jauh lebih mahal dari pada yang dijual di Indonesia. Seingat saya sih, harga pakaian dari merk yang sama di Indonesia bisa setengah harga lebih murah*! (mohon dibenahi kalau salah)

Salah satu tantangan tinggal di sini adalah mampu mengatur uang dengan baik. Dari awal tiba di Denmark, aku jadi lebih berhati-hati menggunakan uang. Awalnya sempat malas menabung ketika tinggal di Swedia selama tiga bulan. Maklum, pertama kali hidup lama di Eropa, hasrat jalan-jalan masih sangat kuat.

Lantas, bagaimanakah cara untuk hidup hemat di Kopenhagen?

MEMBUAT CATATAN KEUANGAN

20190422_143108-014759659981057456926.jpeg
Buku Lusuh untuk Corat-Coret Masalah Hepeng (Uang)

Aku sama sekali nggak punya background akuntansi, jadi pencatatan yang kulakukan sangatlah sederhana. Aku punya satu buku besar yang kuisi dengan segala macam tetek-bengek keuangan selama hidup di sini. Yang tadinya travelling dengan budget semauku, sekarang travelling lebih kuatur dengan baik. Tak lupa kubuat rencana perjalanan dan dana yang bisa kuhabiskan selama masa travelling. 

Membuat skala prioritas juga sangatlah penting. Prioritas utamaku adalah untuk menabung untuk hari depan dan investasi. Menurutku jumlah tabungan dan investasi ini pastinya berbeda-beda tiap individu. Yang paling sulit itu: disiplin untuk melakukannya.

Membuat catatan pengeluaran yang detail juga penting. Setelah mensisihkan uang untuk investasi/menabung, barulah kita bisa mulai membuat susunan pengeluaran, bukan sebaliknya. Pentingnya membuat daftar pengeluaran yang detail adalah mengurangi biaya tak terduga. Jadi segala macam biaya tetek-bengek termasuk pulsa bulanan kupisahkan di sini.

BELANJA DI LOPPEMARKED ATAU SAAT SALE

Salah satu biaya yang bisa ditekan adalah biaya pembelian baju dan peralatan make up. Bedak dan lipstick yang kupakai sampai saat ini kubeli saat masih di Indonesia. Karena tau akan mahal, jadi aku menstock dua bedak tabur dan tiga lipstick. Hampir setahun tinggal di sini, semuanya masih awet (dan belum kadaluwarsa).

Masalah baju aku juga nggak terlalu pilih-pilih. Beberapa barangku pemberian teman, ada juga yang kubeli saat sedang diskon. Salah satu jaket kubeli di H&M saat diskon musim panas lalu. Harga aslinya 699 DKK (± Rp1.500.000,-) tapi karena sedang diskon, jadilah aku membeli jaket tersebut seharga 99 DKK (± Rp200.000,-). Mantap betul, bukan?

20190422_142951-012693136931660068017.jpeg
Murah, tapi tetap bagus

Selain itu aku juga membeli baju di Loppemarked Studenterhuset (Pasar Loak Student House). Loppemarked umumnya menjual barang-barang second, tapi ada juga yang masih baru dan ada label harganya. Karena yang menjual adalah pelajar, jadi baju-baju yang dijual sangat up-to-date untuk anak muda. Kaos-kaos sehari-hari dan jeans bisa dibanderol dengan harga 5 DKK (± Rp11.000,-). Ketika kudatangi toko dan melihat harga barunya, bisa mencapai 100 DKK (± Rp220.000,-). What a great deal!

Untuk info Loppemarked Studenterhuset ini, bisa dilihat di sini: Loppemarked Studenterhuset

Prinsipku adalah memastikan kalau aku butuh, bukan kepingin. Kalau menurutku aku sudah punya jaket untuk winter yah untuk apa menghabiskan uang untuk beli yang baru. Selain itu, aku juga membuat daftar sendiri untuk shopping ini, pokoknya jangan sampai belanja banyak tanpa menabung.

Kadang ada sih yang komen kenapa baju yang kubeli murah-murah, tapi karena aku orangnya cuek, jadi nggak masalah. Aku lebih baik belajar mengatur uang dari pada kalah sama gengsi. Aku sendiri juga nggak pernah melihat orang dari bajunya. Kalau nyambung dan obrolannya nggak membosankan, that will be just great!

MEMBELI SNACK DAN MAKANAN SEPERLUNYA

Karena sering mencatat keuangan ini, aku jadi sadar apa saja yang sering kubeli setiap bulan. Gara-gara ini aku jadi belajar untuk menahan diri, bukan hanya sayang uang, tapi sayang badan. Beruntungnya di keluarga asuh baru, aku jarang membeli snack atau roti karena bebas mengambil dari dapur.

Menurutku, supermarket termurah di sini adalah Netto dan Fakta. Jarang sekali aku pergi ke Fotex, Irma, atau Rema. Di Fakta, kita bisa membeli roti setengah harga (diskon 50% setelah jam 7 malam (mohon di cek di Fakta terdekat). Beras seharga kurang lebih 4 DKK bisa ditemukan di Netto.

Kalau sedang craving snack atau kebutuhan sehari-hari yang murah, bisa coba ke Normal dan Flying Tiger. Di Normal, kita bisa menemukan kosmetik, shampoo, dan sabun yang berukuran besar tapi tetap terjangkau. Kalau suka hal-hal unik untuk kreativitas atau dekorasi ruang, Flying Tiger Copenhagen menjual replika bunga dan bingkai foto yang harganya di bawah 20 DKK. (Eh, kok jadi melebar? hehe)

20190407_172022-01958777750956704828.jpeg
Ice Cream 10 DKK di Flying Tiger

Makanan termurah di Kopenhagen adalah Chinese Box dan kebab, dengan 35 DKK saja kita sudah bisa makan kenyang. Kebab banyak dijual di mana-mana, sedangkan Chinese Box favoritku ada di Norreport.

BERSEPEDA 

Karena aku masih tinggal di Kopenhagen Kommun, aku nggak butuh waktu lama untuk sampai ke pusat kota. Di musim panas lalu aku selalu bersepeda, awalnya lelah sih tapi menyenangkan. Terkadang aku berhenti dan menuntun sepedaku, kakek dan nenek yang lebih tua bisa menggowes lebih cepat dariku. Bisa dikatakan aku pesepeda paling lelet! haha

20190324_150101-01720765177308771963.jpeg
Banyak orang bersepeda di Kopenhagen

Di musim dingin aku belum sanggup bersepeda. Bukan hanya dingin, tapi kencangnya angin itu benar-benar membuatku ogah nggowes.

Bersepeda ini bisa sangat berdampak signifikan untuk mencegah pengeluaran tapi yah kalau tinggal jauh dari pusat kota, lebih baik jangan terlalu sering ke kota dan mencari alternatif untuk beraktivitas di wilayah tempat tinggal kita.

♥♥♥

Walaupun Kopenhagen kota yang mahal, kita juga bisa punya gaya hidup yang sederhana kok. Ada juga yang lebih ekstrim dan tidak mengatur uang untuk biaya senang-senang sama sekali. Tapi menurutku senang-senang kan nggak harus mahal. Buatku bisa membeli barang dengan harga murah adalah kesenangan tersendiri, I feel like I know where to look. Jalan kaki keliling kota juga merupakan kegiatan yang sangat refreshing. Pokoknya bagaimana caranya supaya bisa menabung tapi juga have a good experience in a foreign country itulah prinsipku.

20190406_125012-012982003118432949209.jpeg
Banyak yang bisa dilihat di Kopenhagen 🙂

I hope you find the best way to be pennywise wherever you are! 🙂

Abigail Tessa