Site Overlay

Au Pair: Bermasalah dengan Host Family?

Apapun yang sedang kita lakukan di dunia ini, pasti ada saja tantangan dan masalah yang harus dihadapi. Demikian halnya ketika kita memutuskan untuk menjadi au pair, pasti ada saatnya kita menemukan tantangan. Tinggal bersama keluarga yang baru kita temui, menghidupi cara hidup mereka, dan mengikuti peraturan di rumah keluarga asuh adalah beberapa contoh tantangan dan masalah yang mungkin kita hadapi.

Pada dasarnya setiap keluarga mempunyai kebiasaan dan karakter masing-masing. Ada keluarga yang spontan dan santai, ada yang perfeksionis, bahkan ada juga yang sangat disiplin. Ada juga keluarga yang clean freak dan hobinya berteriak kepada anak-anak mereka.

Karakter keluarga ini tentunya akan sangat mempengaruhi kesuksesan masa au pair kita. Bayangkan hal kecil semacam cara mendisiplinkan anak. Apakah kalian sanggup mendengarkan orang tua dan anak asuh yang saling berteriak satu sama lain?

Tidak semua orang perfeksionis. Coba pikirkan kalau kalian orangnya santai dan not that into detail tetapi keluarga asuh kalian meminta untuk melakukan tugas kalian dengan rapih, tetap, cepat, efisien, efektif, dan sebagainya. Untuk itulah kalian harus pandai-pandai memahami (calon) keluarga asuh kalian. Kalau bisa sih, memastikan kalau kalian akan cocok dengan mereka.

Sebagai warga luar Eropa, salah satu permasalahannya adalah aku nggak bisa 100% yakin ketika wawancara dengan keluarga asuh. Karena semuanya dilakukan online. Dengan kata lain, aku tidak bisa membaca karakter keluarga asuh secara keseluruhan. Mungkin waktu wawancara baik, tetapi ketika sudah menjalani masa-masa au pair ternyata jebakan batman hehe

Menurutku sih, mendapatkan keluarga asuh yang baik itu susah-susah gampang dan sedikit gambling juga.

Lantas, harus bagaimana ketika pada akhirnya kita punya masalah dengan host family atau keluarga asuh?

PASTIKAN ITU BUKAN HANYA CULTURE SHOCK

Negara-negara adidaya macam Jerman, Denmark, Swedia, Belgia, dll pada dasarnya memiliki taraf dan kualitas hidup yang lebih baik dari Indonesia. Tingkat kebersihan di sini tentunya lebih tinggi. Apa yang menurut kita bersih belum tentu dipikir bersih bagi mereka.

Ada juga hal-hal lain seperti perbedaan beretika sehari-hari, cara mendidik anak, dsb yang mungkin akan sangat berbeda. Di Denmark misalnya, anak umur dua tahun sudah harus makan sendiri, berebeda dengan di Indonesia yang masih banyak disuapi.

Oleh karena itu, kalian harus memastikan kalau masalah yang kalian hadapi itu bukan hanya sekedar culture shock. Kalau mau mencoba tinggal di luar negeri yah, sudah harus siap mental. Kalau kalian jadi down cuma gara-gara ditegur tentang sesuatu, coba pikir lagi: standard mereka mungkin berbeda dengan kita.

Tanyakan pada teman-teman yang sudah lebih berpengalaman. Apakah kalian hanya sedang kaget dengan budaya yang berbeda? Atau memang ada masalah?

PIKIRKAN KEMBALI TUJUAN AWAL KALIAN

Kenapa kalian ingin menjadi au pair?

Kalau alasan kalian hanya sekedar ingin jalan-jalan karena kagum dengan foto-foto yang kalian lihat di media sosial, kemungkinan kalian akan lebih mudah menyerah. Tetapi kalau kalian punya alasan yang kuat, kalian akan lebih mudah bertahan.

Ketika bermasalah dengan keluarga asuh, coba ingat-ingat lagi kenapa dulu ingin sekali tiba di negara tujuan kalian.

BERCERITA KEPADA ORANG YANG POSITIF

Mencari teman di tanah rantau itu susah-susah gampang. Cobalah untuk bergaul dengan orang-orang yang positif dan supportif. Yang kalian tau ketika kalian menceritakan masalah kalian, mereka akan memberikan masukan atau sekedar menjadi pendengar yang baik.

Kalau kalian bercerita ke orang salah, kemungkinan nyali kalian makin ciut. Apalagi kalau jawabannya hanya “yah memang gitu kali”. Kalau “memang hanya begitu” minimal kita bisa mendapatkan teman sharing yang baik.

Lebih baik lagi kalau kalian bisa bercerita ke orang terdekat seperti keluarga, misalnya.

DISKUSIKAN DENGAN KELUARGA ASUH

Sebenarnya diskusi ini hanya perlu kalian lalukan kalau kalian memang masih ingin tinggal bersama keluarga asuh kalian. Kalian juga harus pandai-pandai melihat situasi, apakah keluarga asuh kalian akan langsung marah atau malah mengusir kalian saat itu juga. Kembali lagi, kalian harus mengenal karakter keluarga asuh kalian.

Ada baiknya, kalau kalian menulis hal-hal yang ingin kalian bicarakan sebelumnya. Pastikan kalau kata-kata kalian tidak memojokkan keluarga asuh kalian.

PIKIRKAN KEMUNGKINAN UNTUK PINDAH

Kalau sudah benar-benar di luar batas yang bisa kalian tetapkan, lebih baik kalian memikirkan kemungkinan untuk pindah. Seandainya kalian ingin pulang saja, pastikan kalian sudah mengumpulkan uang yang cukup untuk tiket pesawat (kalau tidak dibayari).

Apabila ingin memulai lagi, pastikan kalian memilih keluarga asuh yang tepat. Cobalah untuk belajar dari pengalaman kalian. Adakah yang perlu dilakukan untuk mendapatkan keluarga yang baik bagi kalian?


Kalau ada dari kalian yang sedang bermasalah dengan keluarga asuh, jangan merasa sendiri. Jangan juga takut untuk lapor apabila ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, misalnya keluarga asuh belum memberi uang saku, dsb.

Jika kalian ingin bercerita, silahkan saja menghubungiku lewat email atau instagram. I’d be happy to share my story, maybe it helps you a bit 😊

DON’T FORGET: you deserve to be a happy person and a happy au pair as well!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *