Photo by Artem Beliaikin on Pexels.com

Salah satu hal yang kuperhatikan setelah tinggal di Eropa adalah kemandirian wanita-wanitanya. Entah itu dalam masalah rumah tangga, politik, dan keseharian. Aku merasa wanita-wanita di sini lebih berani dalam menyuarakan pendapat atau bahkan sekedar berekspresi dalam hal berpakaian.

Kalau melihat situasi ketika masih di Indonesia, rasanya berbeda sekali. Satu kali aku pernah mengutarakan keinginanku untuk melanjutkan pendidikan dan mejadi cewek yang bisa mencari pendapatan sendiri. Salah satu temanku langsung menyerbu ku dengan kata-katanya,

“Ngapain sih lo susah-susah banget. Yang kayak gitu mah laki-laki aja yang ngerjain” kira-kira begitulah pernyataanya.

Entah kenapa kata-katanya ini membuatku sangat terganggu. Temanku ini memang berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan, sehingga mungkin tidak memiliki gambaran tentang wanita yang harus bekerja keras. Sedangkan aku berasal dari keluarga yang sederhana saja, di mana mama ku adalah seorang wanita yang ikut bekerja untuk kebutuhan sehari-hari.

Katakanlah banyak wanita-wanita yang berfikiran sama dengan temanku ini. Lalu katakanlah ada dua kemungkinan atau bahkan banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Anggaplah ada seorang wanita yang tidak bekerja dan bergantung sepenuhnya dalam hal finansial kepada pasangan. Kemungkinan pertama, si pria sangat mencintai si wanita sehingga tidak pernah melirik wanita lain. Akan tetapi satu kali si pria dipecat dan kehilangan sumber penghasilannya. Apakah si wanita hanya akan bisa marah dan menangis karena keadaan?

Kemungkinan kedua, katakanlah si pria ini hidung belang dan kemudian memutuskan untuk memutuskan hubungan dengan si wanita. Apakah si wanita hanya akan menangis di sudut ruangan?

Jawabanku sih, tentu tidak. Maka itu aku sangat terganggu dengan perkataan temanku waktu itu. Meski begitu, aku memaklumi perbedaan pendapatnya. Pada akhirnya, tidak semua orang dilahirkan untuk memulai dari bawah. Kalau dilahirkan di keluarga kerajaan yang kemungkinan akan kaya tujuh atau bahkal delapan turunan, mungkin perkara menjadi wanita yang mandiri ini tidak akan menjadi masalah.

Kalau kalian lahir dengan keadaan yang serba cukup, bersyukurlah. Make the best out of your condition. Kalau kalian harus memulai dari bawah, jangan sedih. Hal ini juga akan menjadi hal yang baik karena kalian akan belajar untuk memaknai usaha dalam hidup.

Bukan hanya wanita sih yang harus mandiri, pria juga. Bagaimana kalau ada wanita yang memutuskan untuk menikahi pria yang kaya raya. Ternyata eh ternyata, itu semua milik orang tuanya. Kalau suatu saat orang tuanya bangkrut apa si pria ini tetap bisa melanjutkan usaha orang tuanya?

Buat yang masih muda-muda, banyak-banyak mengumpulkan ilmu. Rencanankan masa depan kalian selagi muda. Kemandirian ini nantinya akan berguna di banyak situasi yang kalian hadapi.

Abigail Tessa