Sebenarnya ini bukan kali pertama aku merantau. Sebelumnya juga sudah pernah kuliah di kota yang berbeda dari kota asal. Lumayanlah Jakarta – Bandung, hanya tiga jam dengan bus hehe

Dari SMA sudah selalu terpikirkan untuk pergi jauh, entah untuk travelling atau tinggal di suatu negara lain. Saat ini, bersyukur salah satu mimpiku kesampaian. Walaupun agak berbelok sih, dari ingin kuliah lagi menjadi mengambil batu loncatan sebagai au pair.

Ketika merantau di Bandung, terasa sekali perbedaannya dengan Jakarta. Entah kenapa walaupun macet dan polusinya Jakarta bikin gilak, aku tetap lebih merasa “rumah di Jakarta”. Bau gorengan yang bersatu dengan bau roda kendaraan bermotor di aspal panas, pengendara ojek online yang berseliweran, hingga kemacetan yang seringkali membuat geleng kepala, semuanya membuat Jakarta punya kisah sendiri di hati.

Merantau di Bandung membuatku merasa lebih mandiri. Pernah satu kali harus pindahan kos. Karena saat itu sedang musim penelitian, aku nggak enakan minta tolong teman seangkatan. Akhirnya ada salah satu teman yang membantu. Jadilah kami mengendari motor pulang-pergi membawa semua barang-barangku ke kostan baru. Makanan-makanan murah ala mahasiswa, buku-buku bekas, hingga mengejar dosen menjadi kenangan tersendiri untukku tentang Bandung.

Bagaimana dengan merantau jauh ke negara bahkan benua lain?

Rasanya tentu saja sangat berbeda walaupun sudah kuprediksi sebelumnya. Satu per satu temanku baik yang dekat maupun tidak, juga maju ke tahapan hidup yang baru. Ada yang kuliah lagi, bekerja hingga bisa pergi ke luar negeri, menikah, hingga punya anak. Terkadang sedih juga kalau ada teman terdekat atau bahkan saudara terdekat yang menikah, tetapi nggak bisa hadir. Tidak mungkin juga aku hadir di pesta pernikahan yang diadakan dalam waktu yang berbeda. Bisa-bisa habis banyak hanya untuk tiket pesawat.

Tinggal di tempat yang benar-benar berbeda dari negara asal mengajarkanku untuk menghargai hidup. Nggak semua orang bisa punya kesempatan yang selama ini mereka dambakan. Aku juga banyak belajar mentoleransi orang lain dan learn to think and say “that is none of my business”. Bukan karena merasa tidak perduli, tapi karena merasa itu bukan bagianku untuk berkomentar ataupun ikut campur.

Aku juga lebih belajar kalau kindness knows no religion. I knew this before, tapi aku benar-benar merasa lebih sadar akan hal ini. Di Indonesia rasanya agama sangat dielu-elukan. Tapi percayalah, orang baik terkadang bahkan nggak mengenal agama sama sekali. Orang jahat? well, mungkin mereka sedang merasa pahit tentang hidup jadi nggak sabar untuk memuntahkan kepahitan itu ke orang lain juga. Nggak semua atheis itu orang jahat juga.

Di negara asing ini aku belajar untuk nggak egois sebagai individu, nggak mudah marah karena there are still many good things in life selain macet dan suntuknya duduk di bus di ibukota. Saat merantau jauh ini juga aku belajar mengatur keuangan, mengatur energi dan waktu, mengatur harapan dan cita-cita.

I still have around 1.5 years to enjoy and learn here. Mudah-mudahan aku bisa menggunakan waktu yang ada sebaik-baiknya tanpa lupa untuk terus mengejar mimpi yang selalu ada.

Copenhagen, 23 Mei 2019

Abigail Tessa