Site Overlay

Apakah Hidup di Luar Negeri Selalu Enak?

Photo by Pixabay on Pexels.com

Di Indonesia, tentunya ada semacam stereotype yang mengatakan kalau hidup di luar negeri tentulah menyenangkan. Rasanya kalau ada hal-hal yang berhubungan dengan tinggal di luar negeri, baik itu melalui sekolah ataupun hidup bersama pasangan, pasti akan menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan.

Nyatanya, hidup di luar negeri tidak selalu semudah itu.

Walaupun baru sekitar setahun tinggal jauh dari Indonesia, aku merasa sudah cukup banyak merasakan tentang pahit manis kehidupan merantau ini.

Tinggal di Copenhagen, Denmark memang menyenangkan di banyak sisi. Setelah berkunjung ke beberapa negara lain di Eropa, boleh ku katakan kalau negara-negara di Skandinavia merupakan role modelnya negara-negara lain di Eropa. Bagaimana tidak? Sistem transportasi yang sangat terintegrasi, pendapatan yang tinggi, hingga predikat sebagai negara-negara dengan kualitas hidup yang baik ini ditujukan pada negara-negara Skandinavia, termasuk Denmark.

Beberapa hari lalu terlihat artikel tentang Jakarta yang memiliki kualitas udara yang sangat buruk. Aku pun tentunya langsung membandingkannya dengan Copenhagen yang udaranya terasa segar, tentunya karena kesadaran masyarakatnya untuk menjaga lingkungan termasuk dengan bersepeda.

Photo by Tom Fisk on Pexels.com

Akan tetapi, ada juga hal-hal lain yang membuat ku terkadang rindu dengan kemudahan dan kemurahan tinggal di Indonesia.

SERBA MAHAL

Hal pertama adalah bahwa, fakta bahwa segala sesuatu di negara makmur ini mahal. Satu kali aku dan keluarga asuhku berbincang sedikit tentang pendapatan di Indonesia. Tentunya hal tersebut membuat si ibu mengernyitkan kening. Pendapatan orang Denmark memang sangat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Hanya saja, segala sesuatu di sini itu mahal.

Photo by Fancycrave.com on Pexels.com

Satu kali aku pernah membeli baju di salah satu outlet baju yang cukup populer. Aku kemudian membeli sehelai celana yang biasa dipakai di rumah, harganya DKK 79 (sekitar Rp160.000,-). Ternyata oh ternyata, celana ini made in Indonesia. Waduh, di Indonesia mungkin bisa dibanderol dengan harga Rp30.000,- saja hehe

SULIT MENCARI PEKERJAAN YANG SESUAI

Hal kedua adalah mengenai pendidikan dan pekerjaan. Saat ini aku bergabung di salah satu grup facebook yang membernya adalah ekspatriat dari berbagai negara yang tinggal di Copenhagen. Salah satu topik yang sering diperbincangkan adalah banyak dari pendatang ini yang memiliki pendidikan tinggi di negara asalnya namun tidak/belum mendapatkan pekerjaan.

Photo by Kaboompics .com on Pexels.com

Ada yang lulusan master of engineering atau science dan ada juga yang pengalaman pekerjaanya sudah sangat banyak. Apa mau dikata, walaupun banyak orang Denmark yang mampu berbahasa Inggris namun tetap saja mereka memprioritaskan orang yang memiliki kemampuan bahasa Denmark yang baik. Walaupun begitu, ada juga orang-orang yang berhasil mendapatkan pekerjaan yang baik.

SULIT BERTEMAN DENGAN PENDUDUK LOKAL

Selanjutnya adalah tentang pertemanan. Aku sendiri bukan orang yang sangat pasif. Aku pernah dan sedang mengikuti kegiatan volunteering. Awalnya aku membantu di bagian pembuatan kopi untuk jemaat di gereja. Belakangan aku lebih memilih bekerja bersama tim City Care yang berfokus kepada komunitas homeless. Tetapi tetap saja teman main ku kebanyakan orang Asia. Jangan salah, aku senang bisa berteman dengan teman-teman setanah air. Kami bisa bercerita tentang pengalaman kami dengan lebih leluasa dan juga sekali-sekali memasak makanan Indonesia bersama. Akan tetapi, tentunya aku juga ingin punya teman dari negara lain. Sejauh ini aku berteman dengan orang Jerman, Filipina, Cina, Thailan, Turki, Korea dan Afrika.

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Walaupun tinggal di Denmark, ternyata sulit juga untuk mendapatkan teman orang Denmark (tentu saja anak-anak asuhku adalah teman-temanku). Ternyata, tidak sedikit juga ekspatriat yang mengeluhkan susahnya berteman dengan orang Denmark hehe


Tinggal di luar negeri memang tidak selalu mudah, akan tetapi aku sendiri masih merasa kalau merantau ke Eropa adalah salah satu keputusan terbaik yang aku buat sebelum memasuki umur 30. Kalau banyak orang berkata bahwa membaca buku akan membantu kita untuk melihat dunia, merantau membantu kita untuk benar-benar mengalaminya đŸ™‚

2 thoughts on “Apakah Hidup di Luar Negeri Selalu Enak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *