Site Overlay

Rasa Indonesia di Belanda

Liburan musim panas kali ini sudah sangat kutunggu-tunggu. Pasalnya, aku dan bonbon sudah berencana untuk menghabiskan liburan di Amsterdam dan Paris! Jadi ingat waktu “diusir” dari rumah host di Swedia, aku enggan pulang karena belum mengunjungi Paris. Paris, Amsterdam, dan Brussels mungkin adalah tiga tujuan wisata paling terkenal di Eropa.

Setibanya di Amsterdam, aku langsung merasakan suasana yang nyaman dan tentu saja, penuh turis! Berkat foto-foto menarik di instagram dan juga saran dari teman, aku dan bonbon pun menyempatkan untuk mampir ke dua kota kecil di sebelah utara Amsterdam yaitu Volendam dan Edam.

Berfoto di depan Museum Volendam

Hanya dengan uang 10 euro, kami sudah mendapatkan tiket pulang pergi untuk mengunjungi kedua area tersebut. Bus yang kami tumpangi sangat nyaman. Di sepanjang jalan kami melihat banyak rumah yang dibangun di pinggiran sungai, dan sapi-sapi berwarna hitam putih yang sering kulihat di iklan susu.

Pemandangan di balik jendela bus

Perjalanan menuju Volendam berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Volendam ini cantik sekali, banyak rumah-rumah berjejer rapih dengan warna-warna cantik. Letaknya yang di pinggir laut membuat Volendam menjadi area yang sangat menarik.

Ternyata sangat banyak wisatawan Indonesia di Belanda! Aku juga sempat mendengar penjual yang beramah-tamah dengan salah satu kostumer dari Indonesia.

“In Indonesia, there is always matahari. Here, matahari only comes sometimes” kira-kira begitu kata si penjual.

Ada juga beberapa studio foto yang memberikan servis untuk memotret pelanggan dengan pakaian khas Belanda, dan banyak memamerkan hasil-hasil fotonya. Tebak siapa yang paling banyak ditapilkan? Selebritas dan politikus Indonesia. Ada Donna Agnesia dan suami, Ruben Onsu, hingga Ibu Megawati Soekarno Putri.

Apa ada wajah yang kalian kenal?

Selanjutnya, aku dan bonbon melanjutkan perjalanan kami ke Edam. Edam ini sangat dekat dengan Volendam, hanya saja lebih tidak turistik. Jalan-jalan dengan rumah di pinggiran kanal membuatku teringat dengan Jogjakarta dan Giethoorn (kampung dengan jalur kanal di Belanda).

Edam yang cantik

Edam sangat terkenal dengan kejunya, maka itu aku dan bonbon menyempatkan diri untuk pergi ke pabrik pembuatan keju di Edam. Setelah lelah berjalan, kami pun duduk di pinggiran sungai. Matahari hari itu bersinar sangat terik, aku pun memutuskan untuk berpindah ke area yang dilindungi pohon rindang sambil membujuk bonbon untuk ikutan.

Replika keju Edam

Tidak jauh dari tempat kami duduk, ada seorang wanita berambut gelap yang tersenyum padaku yang bertelanjang kaki sambil berlari kecil ke arah pohon rindang.

It is too hot” katanya

Aku pun mengiyakan dan tersenyum.

“Where are you from?” tanyanya.

“Indonesia” jawabku.

My grandfather is from pekayonyacadxaaca*

What?

Pekahdjaodba*

*Aku nggak mengerti dia ngomong apa sampai akhirnya aku paham

Ah, Pekalongan. It’s in Java Island” jawabku antusias.

Kami pun menlanjutkan berbincang sedikit, anjing kecil yang dimiliki wanita berbaju hitam tersebut kemudian datang meminta untuk dielus-elus.

Walaupun berbincang sebentar aku merasa nyaman sekali. Mungkin karena di Denmark kebanyakan orangnya sangat reserved, suasana dan rasa “Indonesia” di Belanda membuatku merasa nyaman. Mungkin juga karena orang Belanda yang katanya sangat terbuka terhadap sesuatu yang baru.

Sepulang dari Edam dan Volendam, aku mengunjungi supermarket di Amsterdam. Ternyata, banyak sekali produk Indonesia! Mulai dari kerupuk dalam bentuk snack, hingga rendang dingin yang sudah jadi. Ampun deh surga dunia hehe

Pisang goreng dengan gula merah dan es krim vanila

Sejauh ini, Belanda is technically a home away from home for me.

1 thought on “Rasa Indonesia di Belanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *