Kapan Pulang? – Cerita Anak Rantau

Pernah ngga sih, ketika kalian merantau jauh dari rumah dan ada aja yang berkali-kali menanyakan hal yang sama,

“Kapan pulang?”

Pertanyaan ini tentunya sangat umum ditanyakan. Awalnya sih biasa saja, namun lama kelamaan lelah juga menjawab pertanyaan yang sama, dari orang-orang yang sama.

Aku sendiri adalah seorang anak tunggal yang mempunyai orang tua tunggal, karena Alm. papa sudah meninggal.

Kadang kesal sendiri kalau ada yang bilang “Kamu nggak kasihan mamamu sendirian?”.

Tentu saja aku banyak memikirkan tentang hal tersebut. Akan tetapi, melihat kondisi yang ada, aku merasa akan lebih baik kalau aku tinggal di Eropa. Mamaku juga salah satu orang yang sangat mensupport dan berbahagia dengan keputusanku.

“Kamu harus bisa berdiri sendiri dan gak bergantung di bawah ketek mama” begitulah pesan lucu, tetapi dalam dari mama.

Kenapa bertahan di Eropa lebih baik?

Alasan pertama tentunya karena ini sudah menjadi mimpi ku dari kecil.

Alasan selanjutnya, tentunya karena alasan finansial. Sebelum berangkat ke Eropa, gaji ku di Jakarta bisa dikatakan lumayan. Akan tetapi, gaji ini hanya akan cukup untuk diri sendiri saja. Aku waktu itu sudah memutuskan memutuskan untuk mengambil KPR rumah, sehingga tidak sedikit presentasi dari pendapatan yang digunakan untuk KPR bulanan. Belum lagi bayar transportasi dan makan sehari-hari.

Mungkin setelah bekerja beberapa tahun, gajiku bisa menembus angka dua digit dan posisi ku naik. Mungkin juga tidak.

Di Eropa, terutama di Jerman, tidak sedikit orang Indonesia yang merantau dan meniti karir mulai dari nol. Seperti melalui jalur au pair. Kalau satu saat mamaku sudah harus pensiun, dengan gaji lebih yang bisa kumiliki di sini, tentunya aku bisa mengirimi beliau uang yang lebih. Mamaku bukanlah PNS, sehingga tidak akan memiliki uang bulanan pensiun.

Jadi, bukannya aku ngga mau pulang. Tetapi banyak keputusan-keputusan yang harus diambil secara logis dan dengan pikiran terbuka.

Kebanyakan orang tentu akan berkata,

“Cewek ngapain sih capek-capek. Biar nanti pasanganmu saja yang bekerja keras!”

atau,

“Duh, mending di Indonesia saja. Menikah dan menemani orang tuamu.”

Tapi justru aku berkata sebaliknya. Aku mau mengejar mimpi, bukan hanya untuk memenuhi khayalan diri sendiri. Tetapi untuk berjuang menghidupi diri sendiri dan orang-orang yang dicintai.

2 Comments Add yours

  1. kutubuku says:

    Aduh suka kesel sama yg bilang cewe menikah aja trus nanti dinafkahi suaminya. Terus klo kenapa2 gimana? Suaminya abusive? Atau kecelakaan hingga ga mampu kerja? Mau makan apa? Makanya dari dulu udah ga tahan tinggal d Indonesia yg societynya patriarkis banget

    1. Bener banget. Sayangnya, masih banyak yang begitu. Terkadang malah orang tuanya sendiri yang bilang jangan ke mana-mana dulu sebelum menikah. Karena takut kalau anaknya lama menikah. Yah pada akhirnya juga tergantung individunya, mau ikut serta atau bebas dari budaya patriarkis hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *