Sumber: WordPress Free Photo Library

Sore ini aku sedang duduk santai di salah satu gedung perpustakaan tempatku tinggal. Aku putuskan kalau aku sedang penat belajar bahasa dan memutuskan untuk duduk di pojok kursi-tangga, di samping jendela besar yang menghadap ke jalan raya.

Siang hari tadi saat sedang duduk menikmati matahari di bangku taman, dua muda-mudi yang mengaku bagian dari kelompok agama lokal membagikan brosur. Di brosur kuning itu tertulis pertanyaan utama,

“Apakah pertanyaan terbesarmu dalam hidup?”

Seandainya aku berusia 10 tahun lebih muda dari sekarang, duduk di bangku sekolah menengah, tentulah pertanyaan ini akan sangat membangkitkan rasa penasaranku. Mengganggu pikiran-pikiran di kepalaku.

Tetapi tidak untukku di masa sekarang. “I am way pass that. Done with those questions” gumamku dalam hati sambil memalingkan wajahku dari brosur tersebut. Aku kembali menikmati sinar mentari yang sepertinya menandai akhir dari musim dingin yang panjang.

Tidak, bukanya aku merasa sombong dan serba tahu. Tapi aku merasa, memang pada akhirnya ada pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya tidak bisa kita jawab. Tidak ada gunanya bergantung pada orang atau organisasi dan agama lain untuk memberikan jawaban pasti. Karena toh tidak akan ada yang mengerti benar jawaban dari Sang Pencipta.

Arti hidup untukku, adalah sebaik-baiknya kita menggunakannya. Tidak semua orang bisa menjadi pemberita injil hingga ke ujung bumi, tetapi bukankah mengampuni dan mencintai sesama adalah bukti bahwa kita manusia sedang belajar untuk mengikuti Citra Yang Kuasa?

Aku nggak lagi merasa adanya keperluan untuk menghakimi si agama ini dan itu. Tiap-tiap manusia pasti punya perjalanan hidupnya masing-masing. Beruntunglah manusia yang mempelajari kebaikan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah percaya pada Tuhan aku taruh di dalam hati. Menurutku, patutnya orang berdoa di dalam hati, di balik pintu terkunci, tanpa harus ada banyak orang yang mengetahui.

Arti hidup untukku adalah menjalani dan belajar bersyukur setiap hari.

Aku percaya bahwa ada kekuatan Yang Kuasa, di balik hingar-bingar, rasa lelah, dan susah senang manusia di setiap hari.

Jadi untuk apa bertanya ke sana-kemari?

Karena jawabannya sudah ada di lubuk hati.

Abigail Tessa