Aku memang tidak beragama muslim, tapi aku punya cerita sendiri untuk lebaran.

Sebagai minoritas, aku hidup dikelilingi oleh teman-teman yang beragama muslim. Saat masih kecil, bulan puasa ikut aku nantikan, karena itu adalah musim saat aku dan teman-teman akan bermain petasan.

Salah seorang temanku, ayahnya bekerja di tempat di mana banyak petasan dirazia. Pernah satu kali ayahnya membawa berbagai macam petasan. Sebagai anak kecil, aku sudah menikmati berbagai macam petasan, mulai dari kembang api yang sederhana, hingga petasan disko. Petasan yang satu ini bakal membuatku dan teman-teman berkeliling di sekelilingnya sambil menari, seperti disko.

Selain petasan, aku juga biasanya bersilahturahmi dengan para tetangga dan beberapa saudara yang beragama muslim. Di momen silahturahmi ini biasanya salah satu yang kunantikan adalah acara makan bersama. Hidangan utamanya apalagi kalau bukan opor ayam yang lezat dan terkadang ditambah dengan daging rendang yang empuk.

Di saat merantau seperti ini, biasanya aku mampir ke kedutaan besar di Copenhagen untuk ikut acara open house. Tetapi, karena covid-19, jadilah pemerintah Denmark melarang segala bentuk perkumpulan yang terdiri lebih dari 10 orang.

Untungnya, ada beberapa chef Indonesia di Copenhagen yang menjual katering saat lebaran. Jadilah aku membawa makanan katering ini untuk dimakan bersama beberapa teman.

Walaupun secara agama aku tidak merayakan lebaran sama sekali, tapi aku selalu senang merayakan lebaran. Juga hari-hari besar lainnya.

Menurutku lebaran bisa kupakai untuk mengenang saat-saat kebersamaan dengan teman dan sanak-saudara yang berbeda keyakinan.

Meski hobiku saat kecil saat lebaran hanya main petasan dan makan opor ayam, lebaran tetaplah salah satu momen bermakna yang kunantikan.

Selamat hari Lebaran untuk kalian semua yang merayakan.

Semoga keberagaman kita tidak menjadi alasan untuk memupuk rasa kebersamaan.

Abigail Tessa