Lulus Ujian A1&A2 Bahasa Jerman – Belajar Otodidak

Tahun 2019 lalu adalah tahun pertama ku menjajal belajar bahasa yang katanya sangat sulit ini.

Katanya sih karena sangat sulit, makanya kursus bahasanya pun sangat mahal. Sewaktu masih Indonesia, sempat terpikir untuk belajar bahasa Jerman secara privat (karena masih bekerja). Akan tetapi harga kursus yang mahal sekali membuat ku mundur.

Setelah tinggal di Denmark, aku belajar lebih banyak untuk disiplin. Secara tidak langsung kedisiplinan ini juga membuatku lebih percaya diri untuk belajar bahasa secara otodidak.

Jadi mulailah aku belajar bahasa Jerman A1 pada bulan Oktober – November 2019 dan akhirnya mengambil tes pada tanggal 5 Desember 2019. Diikuti dengan tes A2 di bulan Maret 2020. Ternyata, hasil kedisiplinanku membuahkan hasil. Hasil tesku memuaskan 🙂

Berikut ini tips yang ingin aku berikan untuk teman-teman yang ingin belajar bahasa Jerman secara otodidak:

DISIPLIN BELAJAR MINIMAL 1 JAM PER HARI

Kadang banyak dari kita yang berfikir, kalau nggak bisa belajar 3 jam sehari lebih baik nggak usah sama sekali deh!

Padahal, belajar itu menurutku bukan soal kuantitas tapi kualitas. Dari pada belajar 3 jam tapi sulit fokus, sedikit-sedikit sudah mau buka media sosial, lebih baik coba sedikit-sedikit dulu.

30 menit saja sebenarnya sudah cukup untuk membuat e-mail berbahasa Jerman sederhana lho!

BELAJAR DARI YANG PALING MUDAH

Salah satu tantangan terbesar dalam belajar bahasa Jerman adalah grammar yang kompleks.

Terkadang kita sudah takut duluan melihat Dativ, Nominativ, Genitiv, dan teman-temannya.

Daripada kita menghabiskan waktu lama untuk memusingkan bagian tersulit, lebih baik kita mencoba memahami bagian termudah dulu.

MEMAHAMI GAYA BELAJAR KITA

Setiap orang itu punya cara yang berbeda untuk sukses dalam belajar, tugas kita adalah menemukan mana yang paling kita sukai.

Misalnya saja, aku malas menghafal kosa kata. Tapi aku suka menulis! Ternyata ketika aku mencoba menulis kosa kata baru ke dalam buku catatan, ada saja yang nyangkut.

Ada lagi yang harus belajar lewat gambar. Nah, sudah banyak juga media online yang menyediakan sarana untuk yang satu ini.

TIDAK TAKUT SALAH

Aku pernah pergi ke sebuah pesta teman. Ia mengundang juga teman lainnya yang berkebangsaan Jerman. Tau aku ingin belajar bahasa Jerman, si pemuda ini berkata ‘‘bahasa Indonesia kan mudah sekali. Kamu yakin bisa mempelajari bahasa Jerman yang sulit?“.

Aku tanpa ragu berkata ‘‘Tentu saja!“

Belajar bahasa tidak boleh takut salah. Mungkin akan ada orang di luar sana yang akan meragukan kemampuan kita, atau bahkan menyela karena cara bicara kita belum sempurna. Tapi kalau kita takut mencoba, kita nggak akan pernah sepenuhnya belajar.

PUNYA PARTNER UNTUK BELAJAR BICARA & MENULIS

Bagian membaca (Lesen) dan mendengarkan (Hören) adalah bagian yang sifatnya lebih pasif dari pada menulis (Schreiben) dan berbicara (Sprechen). Kenapa?

Karena saat membaca dan menulis, kita tidak perlu memproduksi apapun secara lisan maupun tulisan. Jawabannya sudah tersedia pada bacaan dan audio yang kita dengar.

Saat sedang menulis dan berbicara, kita harus memproduksi sendiri kalimat-kalimat yang ingin kita gunakan. Di situlah letak tantangannya.

Maka itu, akan sangat baik jika kita memiliki pembimbing di kedua bagian ini. Tidak harus membayar seseorang, kita bisa mencari teman yang sedang belajar bahasa yang sama.


Apakah kalian juga tertarik untuk belajar bahasa Jerman secara otodidak?

Lumayan, uang jutaan yang harus kalian alokasikan untuk les bahasa bisa kalian alokasikan untuk hal lain.

Salam semangat 🙂

4 Comments Add yours

  1. raskita says:

    makasi ya kak, atas atas ulasannya saya sangat terbantu kk

    1. Sama2 🙂 Thank you udah visit blog saya ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published.