Site Overlay

Dua Tahun di Eropa: Gaining & Losing

Dua tahun berlalu sejak aku pertama kali datang untuk menjajal program au pair.

Banyak masa senang yang sudah kulalui, mulai dari diusir dari rumah host hingga diperlakukan seperti domestic worker penuh waktu.

Lelah? Pasti. Tapi lantaran aku mau fokus untuk mengumpulkan kuliah ke Eropa, aku pantang pulang.

Kalau melihat media sosial, sudah banyak teman-temanku di tanah air yang melanjutkan kehidupan ke babak baru. Ada yang sudah menikah atau bahkan punya anak kedua. Lucu juga, beberapa anak temanku ada yang seumuran dengan anak asuhku.

Dari sisi tujuan awal, aku merasa cukup puas. Thankfully, aku berhasil menabung untuk kuliah. Bahkan aku juga banyak belajar investasi dan mempraktikannya. Mulai dari tabungan deposito yang paling konvensional, hingga reksadana, dan investasi surat beharga dari pemerintah.

Sayangnya, pemerintah Jerman baru saja mengganti peraturannya tahun lalu. Uang jaminan untuk visa studi yang tadinya sebesar kurang lebih 8.600 Euro, per akhir tahun 2019 lalu diubah menjadi 10.000 Euro.

Selain belajar mengatur uang, aku juga mengasah skill bahasa ku. Nggak terasa, dua level bahasa Jerman sudah kulalui. Tekadku untuk menjadi manusia frugal pun juga kuterapkan dalam belajar bahasa, karena aku nggak bayar kursus bahasa dan memilih belajar mandiri. Lagi-lagi, aku bersyukur. Dibantu pacarku untuk belajar, akupun menyelesaikan dua level awal bahasa Jerman dengan baik.

Di satu sisi, aku berhasil mengasah beberapa hal yang berguna untuk hidupku ke depan.

Di sisi lain, aku juga banyak merasa tertinggal.

Sebagai au pair, aku nggak mempelajari banyak hal secara profesional. Terkadang silau juga, melihat teman-teman satu almameter yang sudah sukses di tanah air atau melanjutkan studi di luar negeri.

I feel left behind. Apa ada yang pernah merasakan hal yang sama?

This past two years, I have gained so many meaningful experiences. Menjadi au pair membuat mentalku kuat. I have been through so much I don‘t want to fail.

Di sisi lain, I have lost time and opportunity. Terkadang ada banyak pertanyaan ‘‘what if…?“ yang menyerang.

Dari sinilah aku berfikir, kalau masih banyak PR yang harus kuselesaikan.

Aku mau memperdalam skill yang lain. I don‘t want to be the jack of all trades. My goal is to master something and even become a specialist of it.

Perjalanan ku menuju financial freedom juga masih panjang. Harus tetap semangat 


Bagaimana dengan kalian?

Apa masih ada tujuan kalian yang belum kalian tuntaskan?

Tetap semangat buat kita semua 

2 thoughts on “Dua Tahun di Eropa: Gaining & Losing

  1. Jujur dari blog kamu ini mbak Abi, tahu istilah Frugal itu apa walaupun dari sisi sederhanya. Ada rekomendasi buku tentang frugal?

    Pan kapan sharing diblognya tentang reksadana dan SBN juga nih. Pasti seru. Karena ku juga begitu saving with reksadana & SBN. Kali nambah ilmu

    Btw. Ku panggil mbak ato Abi ato Tessa?. Gak enak kalo salah manggil hehe.

    Sederhana tulisannya. Seneng membacanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *