Site Overlay

Au Pair Denmark: Debat Yang Tak Berkesudahan

Bagi sedikit teman Indonesia yang pernah menjadi au pair di Denmark, sudah bukan umum lagi kalau cerita tentang au pair di negara yang katanya bahagia ini punya banyak debat yang tak terselesaikan.

Aku sendiri sudah merasakan rasanya membersihkan rumah orang di sini dan diperlakukan seperti full-time cleaner, memutuskan untuk pindah, hingga sekarang bersama dengan keluarga asuh yang membuatku merasa nyaman.

Di Denmark, lebih banyak cerita tidak menyenangkan yang kudengar daripada yang sedap didengar.

Baru-baru ini, lagi-lagi ada debat di salah satu media sosial tentang program au pair di Denmark.

Si penulis mengaku, ada tetangganya yang memiliki seorang au pair dan si au pair merasa kalau pekerjaannya berlebihan. Alih-alih fokus untuk menjaga anak, si au pair malah diminta untuk memberishkan rumah, mencuci pakaian (di mesin cuci tentunya), memasak, dsb.

sumber: nyidanmark.dk

Pada situs imigrasi Denmark tersebut dapat dilihat dan dibaca sendiri, bahwasannya tugas au pair di Denmark memang untuk domestic chores. Tidak ada batasan atau tulisan lebih detail tentang sejauh mana au pair boleh melakukan domestic chores tersebut. Apakah merawat taman yang luas termasuk domestic chores? Bagaimana dengan membersihkan kandang kuda? (Salah satu teman au pair bertugas membersihkan kandang kuda).

Jadi sekalipun ada yang protes, tidak ada basis yang bisa menjustifikasi apakah ketika au pair melakukan kegitan bersih-bersih di semua bagian rumah itu dianggap biasa atau tidak.

sumber: salah satu Grup Au Pair

Di sisi lain, ada au pair yang merasa sangat pro terhadap keluarga asunya. Ungakapan ‘‘Bersyukurlah karena keluarga asuh sudah menghabiskan banyak uang untuk membawamu ke Denmark‘‘ adalah ungkapan umum yang biasanya dimiliki oleh orang Asia yang hormat kepada atasannya (orang yang lebih berkuasa).

Oleh karena itu tidak umum kalau yang lebih sering speak up adalah orang-orang Eropa sendiri, karena mereka sudah terbiasa untuk jujur dan transparan dalam berpendapat.

*perubahan pada web imigrasi Denmark:


Menurut pendapatku, dua-duanya punya pandangan masing-masing yang bisa dimengerti.

Slogan au pair as a cultural exchange adalah wajah awal yang terlihat ketika kita berusaha mencari tahu mengenai program ini.

Yang perlu dicatat adalah, Denmark adalah salah satu negara paling kurang bersahabat terhadap pendatang. (The Local Denmark: The Worst Country for…)

Lantas kenapa? Menurutku hal ini berperan penting dalam proses integrasi pendatang termasuk au pair. Jadi bukan cerita baru lagi kalau si au pair merasa keluarga asuhnya cuek dan hanya peduli dengan pekerjaan yang mereka lalukan dan kurang peduli dengan their personal situation in general.

Aku nggak bilang kalau orang Denmark itu jahat semua, it just a cultural thing. Gak sedikit kok aku bertemu dengan orang baik di Denmark, bukan hanya di tempat umum tapi di sekeliling tempatku tinggal sendiri.

Tidak banyak yang bisa kulakukan, selain berharap kalau pemerintah Denmark akan memperbaiki sistem mereka. Seperti dengan memasukan program au pair ke dalam skema Working Holiday Visa, sehingga au pair juga memiliki hak layaknya pekerja pada umumnya dan memperjelas tugas-tugas yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang au pair.

Aku juga biasanya merekomendasikan calon au pair untuk tidak menjadikan Denmark sebagai negara pertama.

Pada akhirnya, kita juga jangan sampai lupa kalau au par itu bukan jenjang karir. Memang au pair itu bisa memberikan kita akses untuk melihat dunia, tapi jangan sampai terlena.


Semoga tulisan ini bisa menjadi gambaran bagi teman-teman yang ingin memulai program au pair di Denmark.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *