Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan DM di Instagram yang isinya kira-kira begini:

”Kak, memang kalau Ausbildung di Jerman bisa kaya ya? Saya dengar dari agen katanya kalau Nebenjob (kerja tambahan) aja bisa sampai bangun rumah.”

Ingatan saya mungkin sedikit mendramatisir pertanyaan tersebut.

Kalau saya jawab secara singkat, jawaban pribadi saya adalah: Jein alias Ja und Nein (Ya dan Tidak).

Kenapa begitu? Pertama-tama, kekayaan adalah sesuatu yang menurut saya cukup relatif. Di sini yang saya maksud bukan sekelas millioner, tetapi lebih ke kekayaan orang pada umunya. Bagi sebagian orang, kekayaan itu adalah kemampuan untuk membeli barang-barang mewah. Ada juga yang mengartikan kekayaan sebagai perasaan cukup dan tidak takut ketika ada situasi emergency yang menuntut sejumlah uang seperti ketika sakit atau membayar sekolah anak.

Setelah kita menentukan apa sih kekayaan buat kita masing-masing, berikut ini faktor tambahan yang bakal membantu kamu menjawab pertayaan di atas.

Kerja di Eropa bisa kaya raya?! Mitos atau Fakta?

Tergantung Jenis Pekerjaannya

Sumber: Pixabay

Di Eropa, misalnya saja negara yang pernah saya tinggali yaitu Swedia, Denmark, dan Jerman, banyak beragam pekerjaan yang dilakukan oleh sesama perantau dari Indonesia. Mulai dari perawat, koki, pelayan restauran, pekerja di KBRI, bahkan hingga direktur bank.

Seperti yang kita tahu, setiap pekerjaan pasti punya tugas dan juga pendapatan bulanan masing-masing. Kalau sudah masuk jajaran direksi, tidak perlu ditanya. Gaji dan tanggung jawabnya bisa dikatakan cukup besar. Akan tetapi perlu diingat juga, semakin tinggi pendapatan, semakin besar juga kemungkinan potongan pajak setiap bulannya.

Di Jerman ada program Ausbildung misalnya. Gaji kotor Azubi (pelaku Ausbildung) biasanya sekitar 800-1300 €. Dari gaji kotor tersebut, kita tidak perlu membayar pajak akan tetapi harus sudah membayar berbagai jenis Versicherung (Asuransi) yang sifatnya wajib dari pemerintah Jerman.

Au Pair dan FSJ

Sumber: Pixabay

Ketiga program ini bisa dikatakan pekerjaan yang kasual, karena tidak terlalu mementingkan tingkat pendidikan atau skill tertentu untuk melamar. Saat au pair di Denmark, uang saku saya bisa mencapai 9-10 juta rupiah setiap bulannya. Sebagai au pair, saya tidak perlu membayar listrik, air, tempat tinggal, bahkan bebas beban dari makanan harian. Saat FSJ, uang saku saya dipotong kira-kira 3-4 juta setiap bulannya untuk membayar tempat tinggal yang disediakan. Bisa dibilang, saat au pair di Denmark saya bisa menabung lebih banyak dibandingkan dengan saat FSJ di Jerman.

Pengeluaran & Gaya Hidup

Sumber: Pixabay

Katakanlah kamu sudah mendapatkan jenis pekerjaan yang cocok buatmu. Sekarang pertanyaannya adalah, ”How would you spend your salary?”

Misalnya saja kamu di Jerman melakukan Nebenjob/Minijob atau kerja tambahan. Tetapi kamu tinggal bersama suami dan kamu nggak diharuskan untuk berkontribusi dalam biaya hidup sehari-hari. Pekerjaan dengan basis 10 jam per minggu dan gaji 450 € bisa memberikan kamu tabungan bulanan yang cukup.

Beda ceritanya misalnya jika kamu ikut program Ausbildung dan tidak mendapatkan tempat tinggal. Gaji kotor 1200 € per bulan pun bisa jadi mepet sekali. Apalagi kalau kamu tinggal di kota besar di mana orang seklilingmu berpakaian modis dan dikelilingi berbagai banyak cafe yang ingin kamu coba. Bisa-bisa gaji mu habis bukan hanya untuk membayar kebutuhan utama tetapi juga tersier, seperti shopping baju atau makan di luar.

Jumlah Tanggungan di Indonesia

Sumber: Pixabay

Katakanlah kamu sedang Ausbildung sebagai perawat dengan gaji bersih 1000 € setiap bulannya. Kalau di rupiahkan kira-kira sebesar lima belas juta rupiah. Kelihatannya banyak ya?

Tetapi kamu punya dua orang tua di Indonesia yang sudah tidak bekerja dan dua orang adik yang masih harus kuliah. Anggap saja, kamu harus mengirim sekitar 300 € ke Indonesia setiap bulannya. Belum lagi kamu juga harus bersiap-siap apabila sudha saatnya buat adikmu untuk masuk kuliah. Jangan lupa kamu masih harus membayar tempat tinggal, makanan sehari-hari, transport ke tempat kerja, dsb.

Bisa saja setiap akhir bulan kamu hanya punya 100 € untuk ditabung.


The lists can go on

Intinya, mata uang Euro jika dikonversi ke rupiah akan selalu terlihat besar, bahkan saat kamu masih au pair sekalipun.

Akan tetapi, banyak faktor yang harus kamu pikirkan sebelum memberi predikat kaya raya.

Saya sendiri saat ini masih Ausbildung dan merasa sebenarnya gaji Azubi bisa dibilang kecil jika dibandingkan dengan biaya hidup di Jerman. Seringkali saya harus mengingatkan diri sendiri kalau Ausbildung adalah sebuah fase persiapan untuk menjadi skilled worker. Sehingga saya ga merasa kecil hati kalau memikirkan gaji.

Saat au pair di Denmark saya memang berhasil mengumpulkan dana untuk merenovasi rumah. But it was tough. Bisa dibilang I barely had a social life dan mostly spend my weekend in a library. Jadi saya benar-benar mengorbankan gaya hidup saya saat itu.


Saran saya sih, kalau masih au pair, FSJ, Ausbildung atau bahkan student, jangan dulu fokus sama materi. Utamakan proses dan masa-masa belajarmu. Work well and live well, yang penting kamu merasa cukup. Bisa makan cukup atau bahkan mungkin bisa jalan-jalan juga buat liat sekeliling Eropa.

Nanti ada waktunya kalau kamu sudah masuk dunia kerja profesional dan gajimu bakalan full seperti pegawai di Eropa pada umunya, baru deh define your own definition of kaya raya. Entah itu berupa ngajak jalan-jalan orang tua, beli mobil pertama di Eropa, atau bahkan bisa sampai punya tempat tinggal sendiri di sini 🙂


Thank you for reading.

Happy Saturday night from Germany, Abigail Tessa 🙂

Abigail Tessa